Tuesday, October 5, 2010

rindu kemarau

dari balik jendela kamarku, menghadirkan pesona alam nan hijau, seperti musin hujan yang mengadirkan rerimbun tanaman padi yang membentang luas dari balik rumah.. bulan ini adalah oktober, biasanya pada bulan ini masyarakat di kampungku disibukkan dengan aktivitas berkebun di
sawah, sebagai pengganti tanaman padi, sekedar tahu di daerahku ini musim tanam padi itu satu kali dalam setahun. dari situlah masyarakatnya memanfaatkan waktu untuk berkebun semangka, ubi jalar, melon, jagung dan masih banyak lagi.. aktivitas mereka rutin setiap tahun.. pada bulan oktober tahun lalu sampai tahun lalunya nenek saya atau tahun 2000 ke bawah, sampai kebawah sekali, belum pernah ada orang yang menanam padi pada bulan oktober, hal ini di sebabkan intensitas hujan yang sangat jarang, sawah-sawah pada mengering sampai terlihat pecah-pecah akibat panas yang berkepanjangan, bahkan untuk melihat rerumputan hijau pun sangat sulit. bahkan daerah pegunungan pun menjadi lautan api akibat kekeringan. gunung2 pada gundul akibat asupan air tidak ada..
biasanya pada bulan ini pula masyarakat ramai memperbincangkan kebakaran hutan yang setiap tahunnya terjadi, biasanya kami anak-anak pada tahun 90-an sangat antusias menanti kebakaran hutan pada malam hari, karena ini menjadi hiburan kami, sorak sorai bahkan terdengar ketika api udah meluas, sebuah pemandangan yang spektakuler ketika melihat kobaran api di puncak-puncak gunung, silih berganti pohon-pohon terbakar. masyarakat pun mulai riuh membicarakan kebun A, kebun B yang terbakar.
biasanya isu yang berkembang di masyarakat tentang penyebab terjadinya kebakaran hutan yang menghaguskan kebun mereka adalah gesekan-gesekan pohon bambu, entah benar atau tidak. ada juga karena puntung rokok para pekebun yang di buang sembarangan, kemungkinan besar ini penyebabnya.. mungkin karena ketidak sadaran mereka, di sebabkan pendidikan yang masih rendah...
hari ini, sabtu 02 oktober 2010 sehabis mandi siang kusempatkan waktu tuk ke belakang rumah melihat, persawahan, pegunungan yang menghijau.. ini adalah ritual yang sering saya lakukan ketika mulai jenuh dengan keseharianku.. rutinitas malas-malasan, tanpa tahu apa yang akan kulakukan.. teringat 12 tahun silam, bersama dengan teman2 se timku di klub sepak bola CITRA FC, beramai-ramai membuat lapangan di persawahan di belakang rumahku. maklum di kampung kami belum ada sarana lapangan bola yang permanen, jadi kami memanfaatkan sawah sebagai lapangan, itupun kami lakukan setelah masyarakat udah panen.. dengan semangat gtong royong yang masih melekat pada saat itu, bahu membahu kami mulai memotong sisa-sisa batang padi, ini dimaksudkan untuk membuat rata lapangan, kumpulan jerami kami bakar, ada juga kawan yang pergi mengambil pohon bambu yang akan di jadikan sebagai tiang nantinya, biasanya pohon bambu kebun ambo`ku (kakek saya) yang kami ambil, jaraknya yang lumayan jauh karena harus menempuh perjalanan kaki satu jam. kebun ini letaknya di lompengeng tepat di depan pekuburan islam lompengeng. biasnya teman-teman memanfaatkan gerobak agar kami tak mengankatnya lagi dengan punggung.. tinggal tenaga untuk mendorong sudah cukup, bahkan biasanya masyarakat disini memanfaatkan jasa gerobak untuk mengangkut beban berat seperti padi berkarung, karung, kayu gelondongan, bambu yang jumlahnya banyak.. setelah pohon bambu di teban, kami mulai menaikkannya di gerobak kayu ini. yang paling membuat kami girang adalaha ketika gerobak mulai meluncur menuruni perbukitan, tanpa rasa cemas kami berlompatan menaiki gerobak itu, tanpa memikirkan resiko yang akan kami hadapi jika gerobak ini salah jalan.. hehehe... "tawaku dalam hati"... dalam tim ini kami mengangkat salam sebagai ketua tim, atau kapten istilah kerennya.. saya dengan teman2 bukan memilih karena dia jago, tapi salam memiliki kemauan yang besar untuk membangun sebuah tim yang besar, walau terkadang dia memiliki sikap yang tempramen, terkadang marah tanpa tahu apa sebabnya.. tapi kami tak peduli itu..
salam layaknya pesepak bola handal, dengan sepatu bola pada saat itu dia menjadi kapten kami yang mayoritas hanya menggunakan kaki polos dalam memainkan sepak bola..
dengan sedikit kerja keras akhirnya lapangan bola yang berkapasitas ratusan ribu penonton pun telah jadi, hehehe.... saatnya kami menunjukkan kemampuan kepada dunia bahwa sepak bola di sawah akan melahirkan generasi pemain top dunia seperti del piero yang diidolakan teman kami sulfan.. saya juga tak mau kalah sebagai striker pada tim ini saya juga punya idola dialah senior kami di tim CITRA FC. Lakunding.. hehehe... dialah maskot sepak bola di kampung ci lelellang ini. oia Sekedar tahu CITRA itu kepanjangan dari cilellang tanete rilau. klub ini menggunakan kostum kebesaran merah-merah yang biasa dijuluki setan merah atau kalo di inggris sana mungkin CITRA setara dengan MU kali ya, red devil`s. hehehe........
adapun susunan pemain kami pada saat itu
kiper : risal, agus setiawan
bek: risman, edi, awal, dillo, dedi, saepul,
gelandang: imar, mail, ippang, ending, salam,hendra
depan: ellu (saya), sulfan, aswal, wiwing
mereka-mereka lah yang akan menjadi tonggak tim ini kelak.. nah di klub ini awalnya kami ambil dari beberapah klub kecil yang ada di kampung ini, ada dari iyattang (selatan), manorang (utara), ada juga dari ilau (barat), di klub CITRA inilah kami dipersatukan.. biasanya kami memanfaatkan waktu sepulang sekolah untuk latihan, dan juga mementukan lawan main kita.. club2 tetangga kampung menjadi langganan kami uji tanding, ada maralleng, datae, lompengeng, garessi, kilo seddi (kilo satu).. seingat saya mereka adalah korban2 keganasan permainan kami, bahkan harus aduh jotos sekaligus jika mereka kami kalahkan, kalo udah gini anak iyattang pun kami kerahkan untuk turun tangan, itu keran mereka terkenal nakal..
saat itu sebagai striker inti saya adalah top skor beberapah tahun.. betapa bangganya saya. saat itu saya bermimpi untuk menjadi pesepak bola yang bermain untuk PSM.. tapi itu hanya mimpi....
usia kami tidak mudah lagi, bahkan kesibukan2 menjadi halangan untuk membangun klub ini, sampai sekarang pemerintah setempat belum menunjukkan kepada kampung ini untuk membuat lapangan bola permanen, alih-alih melihat prestasi sepak bola berkembang, namun kenyataan lapangan bola saja sulit di temui disini...
ada yang aneh tahun ini, aku merindukan kemarau, kemarau yang melahirkan sejuta cerita indah, namun sekarang berbeda sawah yang dulunya kering, namun sekarang tak aku jumpai lagi, yang ada sampai dimana mata memandang sampai dsi situ juga tanaman padi menghijau.. musim kemarau tinggal kenangan, tak saya jumpai lagi keriuhan, maen bola ala anak kampung, maen layangan, lari-larian kesana kemari, main bola kasti, curi semangka sehabis maen bola, main pali-pali (baling-baling yang terbuat dari bambu)...... ow... cilellang kampung sejuta impian..... barru, 02 oktober 2010

0 komentar: