BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan media yang sangat berperan dalam menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam diri yang seluas-luasnya. Melalui pendidikan akan terjadi proses pendewasaan diri sehingga di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar. Mengingat peran pendidikan tersebut maka sudah seyogyanya aspek ini menjadi perhatian pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya masyarakat Indonesia yang berkualitas.
Hal ini, sejalan dalam UU SISDIKNAS NO. 20 Tahun 2003 tentang Tujuan Pendidikan Nasional adalah : Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berbahasa merupakan alat komunikasi yang tidak dapat dipisahkan dari aktifitas manusia dan mengingat keterampilan berbahasa sangatlah kompleks khusunya keterampilan membaca sehingga dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran bahasa perlu diterapkan berbagai model pembelajaran, pendekatan maupun teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi ataupun karateristik mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dinyatakan bahwa kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi: kemampuan keterampilan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Keempat keterampilan berbahasa tersebut di atas adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Keterampilan membaca adalah salah satu kemampuan dan keterampilan berbahasa yang mutlak dikuasai siswa SD. Hal ini sesuai dengan pendapat Syafi’ie (1993 : 42) bahwa :
“Kemampuan dan keterampilan baca-tulis, khususnya keterampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa Sekolah Dasar, karena kemampuan dan keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses kegiatan belajar siswa. Keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan untuk meningkatkan pengetahuan siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka membaca. Oleh karena itu pengajaran membaca mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar di Sekolah”.
Pentingnya kemampuan dan keterampilan membaca bagi setiap orang diungkapkan oleh Burn, dkk (dalam Farida 2007), bahwa kemampuan membaca merupakan kemampuan yang vital dalam masyarakat terpelajar. Anak yang tidak mampu membaca akan kehilangan motivasi dalam belajar. Sebalikya anak yang memiliki kemampuan membaca lebih mampu menyesuaikan perkembangan.
Menurut Saleh (2006), guna memberi bekal kemampuan dan keterampilan membaca siswa Sekolah Dasar diperlukan pembelajaran membaca yang dibedakan atas pengajaran membaca permulaan untuk kelas I, II dan membaca lanjut atau membaca pemahaman untuk kelas III-VI (Depdikbud dan Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia) membaca pemahaman atau membaca lanjut. Tujuan membaca permulaan adalah agar siswa dapat menguasai sistem tulisan dan terampil membaca. Sementara tujuan membaca lanjut atau membaca pemahaman adalah agar siswa mampu memahami isi bacaan yang disampaikan oleh penulis.
Kemampuan memahami isi bacaan dapat dilakukan melalui proses dan bertingkat, yaitu melalui tingkat rendah sampai ketingkat lebih tinggi. Saleh (2006) menyatakan bahwa membaca pemahaman dibagi atas lima tingkatan, yaitu (1) membaca pemahaman literal, (2) pemahaman inferensial, (3) pemahaman evaluatif,(4) pemahaman kreatif dan (5) pemahaman apresiasi. Kelima jenis pemahaman ini diharapkan sudah dapat dikuasai oleh siswa SD secara bertahap sesuai dengan jenjang kelas dan tingkat kemampuan kognitif.
Pembelajaran membaca di sekolah belum sesuai yang diharapkan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad (dalam Sumarsono 1994) bahwa ribuan anak-anak SD belum mampu membaca dengan baik. Akibatnya siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran karena mereka tidak memahami isi materi pelajaran. Selanjutnya dinyatakan bahwa kemampuan membaca siswa Sekolah Dasar di Indonesia rata-rata paling rendah pada tingkat ASEAN.
Kondisi tersebut di atas diasumsikan tidak jauh berbeda dengan kondisi di SD Inpres Lompengeng di Kabupaten Barru. Sesuai dengan hasil wawancara dengan salah seorang guru SD Inpres Lompengeng Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru ditemukan masalah: (1) kurangnya pemahaman anak dalam kegiatan pembelajaran membaca,(2) penggunaan model kooperatif belum digunakan oleh guru untuk mengefektifkan siswa, dan (3) pada akhir kegiatan pembelajaran membaca tidak terjadi tindak lanjut hasil kegitan membaca siswa.
Dari data yang diperoleh pada Tanggal 11 Januari 2010 pada Kelas V SD Inpres Lompengeng, dari 23 jumlah siswa di peroleh bahwa nilai rata-rata yang diperoleh dalam pelajaran Bahasa Indonesia khususnya membaca pemahaman rata-rata 5,2 yang seharusnya kriteria ketuntasan minimal siswa kelas V mencapai 7,0 ke atas. Kondisi pembelajaran membaca pemahaman di SD terteliti dinyatakan kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh perencanaan pembelajaran membaca tidak dilaksanakan secara berkelompok, dimana belum memanfaatkan teks bacaan sebagai bahan pembelajaran membaca, penggunaan metode cenderung ceramah dan penugasan secara individual yang sifatnya monoton, dan media yang digunakan cenderung buku paket saja sehingga terjadi komunikasi satu arah antara guru dan siswa.
Melihat hal tersebut, maka perlu diterapkan suatu sistem pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam kegiatan balajar mengajar, guna meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman di Tingkat Sekolah Dasar. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) karena pada model ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran dan terjadinya kerja sama dalam kelompok dengan ciri utamanya adanya penomoran sehingga semua siswa berusaha untuk memahami setiap materi yang diajarkan dan bertanggung jawab atas nomor anggotanya masing-masing. Dengan pemilihan model ini, diharapkan pembelajaran yang terjadi dapat lebih bermakna dan memberi kesan yang kuat kepada siswa.
Berdasarkan pemikiran di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul: “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini rumusan masalah yang dikemukakan adalah “Bagaimana Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng?”
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan Penelitian ini adalah “Untuk mengetahui apakah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng”.
D. Manfaat Penelitian
Pembelajaran membaca pemahaman melalui Model Kooperatif Tipe NHT yang dikembangkan dalam Penelitan Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan berkontribusi sebagai berikut :
a. Manfaat Praktis
a) Untuk guru, temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan (1) meningkatkan perencanaan pengajaran, melaksanakan pembelajaran, dan pelaksanaan evaluasi proses serta hasil pembelajaran membaca, (2) menggunakan hasil penelitian ini sebagai bentuk inovasi Bahasa Indonesia yang efektif.
b) Untuk siswa, dapat meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan perasaan menyenangkan (enjoy) karena mereka diarahkan untuk berpikir kritis.
c) Untuk sekolah, diharapkan penelitian ini dapat memberikan upaya pengembangan mutu dalam pembelajaran sehingga berindikasi meningkatkan hasil pembelajaran di sekolah.
d) Untuk peneliti, diharapkan dapat dijadikan acuan model pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan Model Kooperatif Tipe NHT
e) Untuk masyarakat, diharapakan dapat memberikan dampak yang dapat memberikan gambaran pendidikan.
b. Manfaat Teoritis
Temuan Penelitian ini dapat dijadikan sebagai Landasan Teori Pembelajaran Bahasa Indonesia pada umumnya dan khususnya dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman di Sekolah Dasar.
BAB II
Kajian Pustaka, Kerangka Pikir dan Hipotesis Tindakan
A. Kajian Pustaka
1. Hakekat Membaca
Mencermati beraneka ragamnya batasan hakekat membaca yang diberikan oleh para pakar, berdampak terhadap memperluas wawasan pemerhati membaca itu sendiri. Pemberian batasan tersebut didasarkan pada pendekatan keterampilan dan pendekatan psikolinguistik yang dipergunakan pakar dalam menganalisis membaca, sehingga menimbulkan berbagai pengertian membaca. Para pakar yang menganalisis membaca sebagai suatu keterampilan, memandang hakekat membaca itu sebagai proses atau kegiatan yang menerapkan seperangkat keterampilan dalam mengelola hal-hal yang dibaca untuk menangkap makna. Sedangkan para pakar yang mengutamakan psikolinguistik, menyikapi membaca itu sebagai merekonstruksi informasi yang terdapat dalam bacaan atau sebagai suatu upaya untuk mengelola informasi dengan menggunakan pengalaman atau kemampuan pembaca dan kompetensi bahasa yang dimilikinya secara kritis.
Dengan beraneka ragamnya batasan hakekat membaca, pada uraian ini hakekat membaca akan disesuaikan dengan hakekat membaca yang mengacu pada tujuan pembelajaran, yaitu membaca hakekatnya adalah suatu aktivitas untuk menangkap informasi bacaan baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam bentuk pemahaman bacaan secara literal, infrensial, evaluatif, kreatif, dan apresiasi, denagan memanfaatkan pengalaman belajar pembaca, (saleh abbas, 2006 : 102).
Pemahaman literal adalah kemampuan memahami ide-ide yang tampak secara eksplisit dalam wacana. Pemahaman infrensial adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung dalam wacana. Pemahaman evaluatif merupakan kemampuan memahami isi wacana. Pemahaman kreatif merupakan kemampuan mengungkapkan respon emosional, misalnya mengenai bentuk sastra, gaya, jenis, dan teori sastra. sedangkan pemahaman apresiasi mencakup kemampuan seperti; (1) kemapuan merespon wacana secara emosional dengan cara mengungkapkan perasaan yang terkait dengan isi wacana, seperti rasa senang, benci, tidak suka, puas dan sebagainya, (2) kemampuan mengidentifikasi diri dengan pelaku, peristiwa yang tersaji dalam wacana, (3) kemampuan mereaksi bahasa pengarang dengan cara mengungkapkan sejauh mana kemahiran penulis menggunakan bahasanya, (4) kemampuan imaginary yang dilakukan dengan cara menyatakan kembali apa yang seakan-akan dilihat, didengar, dicium, atau dirasakan saat membaca.
2. Membaca pemahaman
Membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan membaca yang dilaksanakan untuk memahami isi bacaan tanpa menekankan aspek waktu. Pemahaman terhadap bacaan dapat dipandang sebagai suatu proses yang bergulir, terus menerus, dan berkelanjutan.
Durkin (dalam Khalik, 2007: 3) tujuan membaca pemahaman adalah (1) mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan siswa sesuai topik bacaan; (2) menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri; (3) meringkas bacaan; (4) mengemukakan gagasan utama; (5) menentukan bagian yang menarik dalam cerita; (6) mengemukakan pesan cerita dan sifat pelaku; (7) memberi tanggapan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman sebagai suatu proses untuk memahami gagasan atau ide penulis yang tertuang dalam bacaan. Hal ini sejalan dengan apa yang di ungkapkan oleh Durkin (dalam Khalik: 17) bahwa membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan mengenali kata-kata pengarang dan memahami isinya sesuai dengan konteks yang ada.
3. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu peroses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan-perubahan sebagai hasil belajar dapat ditunjukkan dengan berbagai bentuk perubahan seperti pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, dan kemampuan serta perubahan-perubahan pada aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Menurut pengertian psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Sejalan dengan pengertian belajar dimana belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
“Witherington (Djaali, 1998: 19) mengemukakan bahwa belajar memerlukan bermacam-macam kegiatan seperti berbuat, mendengarkan, mengingat, membaca buku, mempelajari diagram, memperhatikan, demonstrasi, bertanya, merenungkan, berfikir, menganalisa, membandingkan dan menggunakan masa lampau”.
Belajar membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, kebiasaan sikap, pengertian, penghargaan, minat, dan penyesuaian diri. Karena itu seorang yang belajar tidak sama lagi pada saat sebelum belajar. Ia lebih sanggup menghadapi kesulitan memecahkan masalah atau menyesuaikan diri dengan keadaan dan ia tidak hanya menambah pengetahuannya, akan tetapi dapat pula menerapkannya secara fungsional dalam situasi hidupnya.
Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa balajar merupakan kegiatan yang aktif dilakukan karena ingin mencapai hasil, baik berupa sikap, tingkah laku maupun perubahan keterampilan, pengetahuan dan pemahaman.
4. Hasil Belajar
Menurut Anni (2005:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan. Hasil belajar ini sangat dibutuhkan sebagai petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar yang sudah dilaksanakan. Hasil belajar dapat diketahui melalui evaluasi untuk mengukur dan menilai apakah siswa sudah menguasai ilmu yang dipelajari sesuai tujuan yang telah ditetapkan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar (Anni, 2005:11) yaitu sebagai berikut.
a. Faktor Internal
Faktor internal mencakup kondisi fisik seperti kesehatan organ tubuh, kondisi psikis seperti kemampuan intelektual, emosional dan kondisi sosial seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Kesempurnaan dan kualitas kondisi internal yang dimiliki siswa akan berpengaruh terhadap kesiapan, proses dan hasil belajar.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal antara lain kesulitan materi yang dipelajari, tempat belajar, iklim, suasana lingkungan dan budaya belajar masyarakat. Faktor eksternal ini juga akan mempengaruhi kesiapan, proses dan hasil belajar.
5. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Menurut Mohamad Nur (2005:1-2) Pembelajaran Kooperatif merupakan strategi pembelajaran di mana siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan siswa yang berbeda kemampuannya, jenis kelamin bahkan latar belakangnya untuk membantu belajar satu sama lainnya sebagai sebuah tim. Semua anggota kelompok saling membantu anggota yang lain dalam kelompok yang sama dan bergantung satu sama lain untuk mencapai keberhasilan kelompok dalam belajar. Pembelajaran Kooperatif dilakukan dengan membentuk kelompok kecil yang anggotanya heterogen untuk bekerja sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan masalah, tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama.
2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Muslimin Ibrahim, dkk (2000:7-10) terdapat tiga Tujuan Instruksional penting yang dapat dicapai dengan Pembelajaran Kooperatif yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, pengembangan keterampilan sosial. Hasil belajar akademik Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik (Ibrahim, 2000:7).
3. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran secara kooperatif atau kerja kelompok dapat mencapai hasil yang baik maka diperlukan unsur-unsur sebagai berikut.
1. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan mereka “sehidup sepenanggungan”.
2. Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri.
3. Siswa harus melihat bahwa semua anggota kelompoknya mempunyai tujuan yang sama.
4. Siswa harus membagi tugas dan tanggungjawab yang sama pada semua anggota kelompok.
5. Siswa akan dikenakan evaluasi atau akan diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
7. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama.(Ibrahim, 2000:6)
4. Landasan Teori dan Empirik Pembelajaran Kooperatif
Perkembangan model pembelajaran kooperatif pada masa kini dapat dilacak dari karya para ahli psikologi pendidikan dan teori belajar pada awal abad ke-20, diantaranya :
a. John Dewey, Herbert Thelan, dan Kelas Demokratis John Dewey menetapkan sebuah konsep pendidikan yang menyatakan bahwa kelas seharusnya cermin masyarakat yang lebih besar dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pedagogi Dewey mengharuskan guru menciptakan di dalam lingkungan belajarnya suatu sistem sosial yang bercirikan dengan prosedur demokrasi dan proses ilmiah. Seperti halnya Dewey, Thelan berargumentasi bahwa kelas haruslah merupakan laboratorium atau miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi. (Ibrahim, 2000:12)
b. Gordon Allport dan Relasi Antar Kelompok Ahli sosiologi Gordon Allport mengingatkan bahwa hukum saja tidak akan mengurangi kecurigaan antar kelompok dan mendatangkan penerimaan serta pemahaman yang lebih baik. Gordon merumuskan 3 kondisi dasar untuk mencegah terjadinya kecurigaan antar ras dan etnik, yaitu: a) kontak langsung antar etnik, b) sama-sama berperan serta di dalam kondisi status yang sama antara anggota dari berbagai kelompok dalam suatu setting tertentu, c) setting secara resmi mendapat persetujuan kerjasama antar etnik.
c. Belajar Berdasakan Pengalaman Johnson&Johnson seorang pencetus teori-teori unggul tentang pembelajaran kooperatif menyatakan bahwa belajar berdasarkan pengalaman didasarkan atas tiga asumsi:
1) Bahwa belajar paling baik jika secara pribadi terlibat dalam pengalaman belajar itu.
2) Bahwa pengetahuan harus ditemukan sendiri apabila pengetahuan itu hendak dijadikan pengetahuan yang bermakna atau membuat suatu perbedaan tingkah laku.
3) Bahwa komitmen terhadap belajar paling tinggi apabila anda bebas menetapkan tujuan pembelajaran sendiri dan secara aktif mempelajari tujuan itu dalam suatu kerangka tertentu. (Ibrahim, 2000:15)
d. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Terhadap Kemampuan Akademik. Satu aspek penting pembelajaran kooperatif ialah bahwa disamping pembelajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, pembelajaran kooperatif secara bersamaan membantu siswa dalam bidang akademis mereka. Setelah menelaah sejumlah penelitian, Slavin (Muslimin, 2000:16) mengatakan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Hasil lain penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif untuk siswa yang rendah hasil belajarnya. Manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar rendah antara lain: a) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas, b) rasa harga diri menjadi lebih tinggi, c) memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah, d) penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi besar, e) pemahaman yang lebih mendalam f) motivasi lebih besar, g) hasil belajar lebih tinggi, h) retensi lebih lama, i) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi. (Ibrahim, 2000:16)
6. Model pembelajaran kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)
Model NHT merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri atas empat tahap yang digunakan untuk mereview fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur interaksi siswa. Model pembelajaran ini juga dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang tingkat kesulitannya terbatas. Struktur NHT sering disebut berpikir secara kelompok.
NHT digunakan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok. Adapun ciri khas dari NHT adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menujuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut. Menurut Muhammad Nur (2005:78), dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Selain itu model pembelajaran NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
Dengan adanya keterlibatan total semua siswa tentunya akan berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa. Siswa akan berusaha memahami konsep-konsep ataupun memecahkan permasalahan yang disajikan oleh guru seperti yang diungkapkan oleh Ibrahim, dkk (2000:7) bahwa dengan belajar kooperatif akan memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademik penting lainnya serta akan memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademis.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil Belajar Akademik Stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan Adanya Keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan Keterampilan Sosial
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen (1993) dengan tiga langkah yaitu :
a. Pembentukan kelompok
b. Diskusi masalah
c. Tukar jawaban antar kelompok.
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh (Ibrahim: 2000) menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Enam langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pra-tes) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
7. Manfaat model pembelajaran koopratif tipe NHT
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
a. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
b. Memperbaiki kehadiran
c. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
d. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
e. Konflik antara pribadi berkurang
f. Pemahaman yang lebih mendalam
g. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
h. Hasil belajar lebih tinggi.
B. Kerangka Pikir
Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran bahasa indonesia, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran. Menyikapi kenyataan ini, penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT, karena model pembelajaran ini bukan hanya kognitif siswa yang ditingkatkan tapi juga melatih siswa untuk bekerja sama dalam hal memecahkan masalah.
Dengan demikian, untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V SD. Inpres Lompengeng khususnya pada pokok bahasan membaca pemahaman, guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kegiatan pembelajaran kooperatif tipe NHT terdiri dari enam tahap yaitu: (1) persiapan, (2) pembentukan kelompok, (3) pembagian buku paket, (4) diskusi masalah, (5) memanggil nomor/ pemberian jawaban, (6) kesimpulan.
Guna memudahkan pemahaman terhadap permasalahan yang sedang dikaji, maka akan dikemukakan alur/ skema kerangka fikir seperti di bawah ini:
Gambar 2.1 kerangka pikir membaca pemahaman dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
C. Hipotesis Tindakan
Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pembelajaran membaca pemahaman maka dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa kelas V SD Inpres Lompengeng.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang dipilih atau digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Secara spesifik, pendekatan kualitatif adalah sesuatu yang berkaitan dengan aspek kualitas nilai dan makna hanya dapat diungkapkan dan dijelaskan melalui lingistik bahasa atau kata-kata. Oleh karena itu, bentuk kata yang digunakan bukan berbentuk bilangan, angka, skor dan nilai. Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan aktivitas siswa dan guna dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran.
Jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang bersifat dedukatif. Model PTK yang dipilih untuk mengungkapkan hasil penelitian sesuai dengan data dan fakta yang diperoleh di kelas adalah model Kemmis dan MC Taggart. Menurut Arikunto (2006), tujuan PTK adalah meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik. Bentuk PTK yang dipilih adalah bentuk kolaborasi antara guru dan peneliti. Pelaksanaan penelitian ini melalui proses pengkajian bersama yang terdiri dari empat tahap yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Daur PTK ditujukan sebagai perubahan atas hasil refleksi tindakan sebelumnya yang dianggap belum berhasil, maka masalah tersebut dipecahkan kembali dengan mengikuti daur sebelumnya.
B. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas V SD Inpres Lompengeng. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 selama 3 bulan, waktu tersebut dimulai dari tahap laporan yang dimulai dari tiga siklus.
Penulis memilih SD Inpres Lompengeng berdasar pertimbangan (1) merupakan tempat tinggal penulis, (2) sudah saling mengenal antara guru-guru dan siswa sehingga mudah untuk mendapatkan informasi, (3) mudah dijangkau.
C. Subjek Peneliti
Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Inpres Lompengeng berjumlah 23 orang yang terdiri 9 orang putra dan 14 orang putri.
D. Data dan Sumber data
1. Data
Data penelitian ini berupa hasil informasi tentang proses pembelajaran dan data hasil belajar siswa terhadap soal yang diberikan yang meliputi : (1) tes awal sebelum tindakan, tes akhir tindakan pada setiap tahap pembelajaran, dan tes akhir setelah berakhirnya setiap tindakan pembelajaran. (2) hasil wawancara dengan subjek penelitian, (3) hasil pengamatan selama pembelajaran berlangsung, (4) hasil catatan lapangan yang sesuai dengan kegiatan siswa selama proses pembelajaran yang berkaitan dengan tindakan. Sedangkan data yang diperoleh dari guru adalah kesesuaian perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dalam membaca pemahaman.
2. Sumber Data
Sumber data yang dijadikan populasi dalam penelitian ini diambil adalah guru dan siswa. Siswa kelas V SD Inpres Lompengeng yang berjumlah 23 orang dan terdaftar pada semester genap.
E. Prosedur pelaksanaan penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model alur PTK yang diadaptasi dari Mc Teggart (Khalik, 2009), bahwa peneliti tindakan kelas mengikuti proses daur ulang melalui perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, seperti digambarkan pada siklus di bawah ini:
Adapun kegiatan yang dilakukan setiap siklus adalah sebagai berikut :
a. Siklus I
Untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajar bahasa Indonesia pokok bahasan membaca pemahaman, maka kegiatannya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan. Setelah berkonsultasi dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus I
2. membuat lembar observasi terhadap guru dan siswa selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas
3. membuat Lembar Kerja Siswa (LKS)
4. membuat alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I
5. membuat jurnal untuk refleksi diri.
b. Siklus II
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi, pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II adalah :
1. Guru harus memotivasi siswa belajar agar siswa lebih bersemangat dalam belajar bahasa indonesia serta guru harus memberikan apersepsi.
2. Guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya.
3. Guru harus selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.
4. Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana.
Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan untuk tindakan siklus I, peneliti harus mempersiapkan juga skenario pembelajaran, lembar observasi untuk guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus II.
c. Siklus III
Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi diri pada tindakan siklusII, maka peneliti bersama dengan guru merencanakan tindakan siklus III agar kekurangan-kekurangan pada tindakan siklus II dapat diperbaiki.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki tindakan siklus II adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal LKS yang telah diberikan. Selain itu, pada tahap perencanaan ini peneliti tetap membuat skenario pembelajaran, lembar observasi terhadap guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus III.
F. Analisis Data
Analisis data dilaksanakan berdasarkan data model mengalir dengan mengacu pada pendapat Miles dan Huberman (1992 : 19), yaitu dengan menelaah seluruh data yang ada, kemudian direduksi berdasarkan masalah yang diteliti, data dalam satuan-satuan kategori. Data penarikan simpulan atau pemaknaan. Menentukan kriteria keberhasilan tindakan mengacu pada rambu-rambu format pengamatan dengan taraf keberhasilan tindakan seperti pada tabel berikut.
Taraf keberhasilan tindakan dalam pembelajaran membaca pemahaman tingkat tinggi melalui Model Kooperatif tipe NHT di SD Inpres Lompengeng.
Taraf keberhasilan Kualifikasi Nilai/angka
85%-100% Sangat baik (SB) 5
70%-84% Baik (B) 4
55%-69% Cukup (C) 3
46%-54% Kurang (K) 2
0%-45% Sangat kurang (SK) 1
Sumber : Buku Pedoman IKIP Malang 1999.
G. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik instrumen utama dan instrumen penunjang. Instrumen utama adalah peneliti sendiri yang mengumpulkan, menyeleksi, menilai, menyimpulkan, dan menentukan data. Hal ini, sejalan dengan pendapat Bogdau dan Biklen (Khalik,2009:37) bahwa peneliti sebagai instrumen utama merupakan orang yang mengetahui seluruh data dan cara menyikapinya.
Dalam buku PTK Abdul Khalik, Moleong menyatakan bahwa teknik yang paling tepat untuk penelitian kulitatif adalah (1) Observasi, (2) wawancara, (3) catatan lapangan, (4) dokumentasi. Keempat teknik tersebut digunakan secara profesional dan mengarah pada sasaran yang di harapkan.
Teknik observasi dimaksudkan untuk mendeskripsikan tentang latar, aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam kegiatan apresiasi cerita sesuai dengan pedoman observasi yang telah di buat sebelumnya. Teknik wawancara di maksudkan untuk melengkapi data yang diambil melalui teknik observasi. Teknik ini dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan praktisi dan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan pendekatan proses.
Teknik catatan lapangan atau catatan harian digunakan sebagai catatan refleksi peneliti terhadap tindakan praktisi berupa gagasan atau pendapat pada saat pembelajaran berlangsung dengan fokus pada perilaku dan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran. Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk melihat proses dan hasil belajar secara tertulis. Sedangkan tes dimaksudkan untuk melihat dampak perkembangan hasil belajar siswa disetiap siklus.
H. Observasi
Tahap observasi adalah mengamati seluruh proses tindakan dan pada saat selesai tindakan fokus observasi adalah aktifitas guru dan siswa. Aktivitas guru dapat diamati mulai pada tahap awal pembelajaran, saat pembelajaran, dan akhir pembelajaran. Data aktivitas guru dan siswa diperoleh dengan menggunakan format observasi, pedoman wawancara, rekaman, dan hasil belajar membaca pemahaman setiap responden.
I. Refleksi
Menganalisis, memahami, menjelaskan, dan menyimpulkan hasil dari pengamatan adalah merupakan rangkaian kegiatan peneliti pada tahap refleksi. Peneliti bersama guru menaganalisis dan merenungkan hasil tindakan pada siklus tindakan sebagai bahan pertimbangan apakah pemberian tindakan yang dilakukan perlu diulangi atau tidak. Jika perlu diulangi, maka peneliti menyusun kembali rencana (revisi) untuk siklus berikutnya. Demikian seterusnya hingga seluruh siswa memperoleh nilai 7,0. keatas
J. Analisis dan validasi data
Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data aspek guru dan siswa, menyajikan data, menafsirkan data, dan menyimpulkan. Data aspek guru dan siswa dalam proses pembelajaran dianalisis berdasarkan kemunculan indikator. Sedangkan data hasil dari pelajaran membaca pemahaman dianalisis berdasarkan mengerjakan tes akhir formatif tiap-tiap siklus 1, 2 dan 3. dengan indikator dapat dilihat pada tabel 3.2 sebagai berikut.
Meningkatkan pembelajaran pada aspek guru dan siswa digunakan acuan dengan
rumus:
K. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu:
1. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan peningkatan hasil belajar membaca pemahaman siswa minimal 80% siswa telah memperoleh nilai minimal 7,0.
2. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran yaitu minimal 80% skenario pembelajaran yang dibuat telah dilaksanakan dengan benar.
Tabel 3.2 Taraf Kualifikasi Tindakan Pembelajaran
No Taraf Keberhasilan Kualifiasi
1. 85% - 100% Sangat Baik (SB)
2. 70 – 84% Baik (B)
3. 55% - 69% Cukup (C)
4. 46% - 54% Kurang (K)
5. 0% - 45% Sangat Kurang (SK)
Sumber: Mill (Khalik, 2008: 35)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Dalam bab IV ini akan dipaparkan temuan-temuan hasil tindakan dan pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan metode kooperatif tipe NHT. Paparan data dan temuan penelitian berkaitan dengan rumusan masalah yaitu: “Bagaimana Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng.
Paparan data masalah diatas yang terdiri atas 3 siklus yaitu siklus pertama, siklus kedua sampai siklus ketiga yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, hasil observasi dan refleksi, keempat hal tersebut diatas diuraikan sebagai berikut:
1. siklus I
a. Perencanaan
Perencanaan siklus pertama dilaksanakan satu kali pertemuan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Perencanaan siklus satu dengan kompentensi dasar “menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan. Setelah berkonsultasi dengan guru bidang studi bahasa Indonesia, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus I
2. membuat lembar observasi terhadap guru dan siswa selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas
3. membuat Lembar Kerja Siswa (LKS)
4. membuat alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I
5. membuat jurnal untuk refleksi diri.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dipersiapkan, Adapun hal-hal yang dilakukan pada tahap pelaksanaan tindakan adalah implementasi rencana yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah pelaksanaan langkah-langkah proses pembelajaran yang telah disusun pada rencana pembelajaran.
Guru : sekarang kalian akan bapak bagi kedalam 5 kelompok yang disesuaikan dengan urutan absen (Setelah membagi kelompok siswa lalu disuruh mencari teman kelompoknya).
Siswa : (siswa mencari teman kelompoknya).
Guru : Sudah dapat kelompoknya?
Siswa : Sudah, Pak!
Guru : Tugas kalian adalah membacakan teks cerita yang bapak bagikan, kemudian kalian diskusikan mengenai hal-hal yang telah bapak jelaskan tadi. Nah sekarang bapak akan menunjuk satu orang dari setiap kelompok untuk membacakan hasil diskusinya di tempat kelompoknya. Adapun yang akan bapak tunjuk adalah nomor yang telah bapak berikan tadi. Apakah kalian masih mengingat nomornya masing-masing?
Siswa : masih Pak. (Semua kelompok)
Guru : Baiklah, kalau begitu Bapak yang akan menunjuk nomor 3 dari kelompok satu, kemudian kelompok dua yang membacakan adalah nomor 1, kelompok tiga, empat dan lima yang membacakan adalah masing-masing nomor 2, 3, dan 5.
Siswa : (Membacakan hasil diskusinya berdasarkan materi yang telah dijelaskan sebelumnya)
Guru : Bagaimana jawaban temanmu tadi, siapa yang bisa memberikan tanggapan (mengarahkan siswa untuk mencermati dan memberikan tanggapan).
Siswa : Saya Pak (hanya sebagian kecil siswa mengajukan tangan)
Guru : Coba kamu fitri berikan tanggapan.
Siswa : (memberikan tanggapan)
Guru : sekarang Kelompok dua, tiga sampai kelompok lima tampil untuk membacakan hasil diskusinya.
Siswa : (kelompok kedua membacakan hasil diskusinya, namun bukan nomor yang telah ditunjuk sebelumnya). Kegiatan ini dilakukan bergantian antar kelompok.
Guru : membagikan soal tes berupa LKS yang dibagikan ke masing-masing siswa
Siswa : (mengerjakan soal)
Guru : sudah selesai dikerjakan!
Dalam proses pembelajaran, siswa dibagi dalam 5 kelompok dengan nomor yang berbeda untuk setiap siswa dalam kelompoknya dan setiap kelompok beranggotakan 4 dan ada pula yang beranggotakan 5 orang siswa. Selanjutnya setiap kelompok dibagikan LKS untuk didiskusikan bersama anggota kelompoknya, guru memberikan bimbingan kepada siswa dalam kelompok terutama kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah dalam LKS. Kegiatan selanjutnya adalah siswa diminta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya pada tempatnya masing-masing untuk siswa yang nomornya di sebut oleh guru dan siswa dikelompok lain memperhatikan dan membandingkan dengan pekerjaannya. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengobservasi jalannya pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa sebagaimana yang tercantum pada lampiran 7 hal 73.
c. Observasi
Hal-hal yang diobservasi pada pelaksanaan tindakan siklus I adalah cara guru menyajikan materi pelajaran apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat atau belum. Selain itu juga dilihat aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
Hasil observasi teman sejawat terhadap guru sebagai peneliti menunjukkan hal-hal sebagai berikut :
1. Guru tidak memberi motivasi dan tidak memberi apersepsi.
2. Guru tidak menjelaskan langkah-langkah metode pembelajaran kooperatif tipe NHT
3. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
4. Guru mengorganisasi siswa dalam 5 kelompok belajar dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang
5. Guru tidak secara merata memberikan bimbingan kepada setiap kelompok.
6. Guru menyiapkan LKS sebagai alat bantu dalam pembelajaran
7. Guru belum mampu mengelola waktu dengan baik, akibatnya ada tahapan–tahapan dalam skenario pembelajaran yang tidak terlaksana karena kehabisan waktu.
Hasil observasi terhadap siswa menunjukan hal-hal sebagai berikut :
1. Pada pertemuan pertama siswa terlihat masih kaku berada dalam kelompoknya.
2. Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam mengerjakan soal-soal dalam LKS yang telah diberikan
3. Sebagian siswa masih ragu mengemukakan pendapat
4. Hanya beberapa siswa yang mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan ada siswa yang merasa gugup ketika nomornya terpanggil untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Selengkapnya hasil observasi dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 73.
d. Evaluasi
Dilihat dari hasil yang diperoleh siswa pada tindakan siklus I, siswa belum menunjukan hasil yang memuaskan. Selama mengerjakan tes terdapat beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan menentukan pokok pikiran.
Jumlah 23 100
Rata-rata 57,8
Hasil pekerjaan siswa pada tindakan siklus 1 menunjukan data hasil tes formatif yang diberikan, yakni tiga orang siswa mendapat nilai 30 (13%), satu orang siswa mendapat nilai 40 (4,4%), delapan orang siswa mendapat nilai 50 (34,7%), enam orang siswa yang mendapat nilai 60 (26,1%), dan lima orang siswa mendapat nilai 70 (21,7%). Dengan nilai rata-rata adalah 57,8. Dengan persen ketidak ketuntasan 78,3% dan persen ketuntasan 21,7%. Hasil evaluasi tindakan siklus I dapat dilihat pada lampiran 16 halaman 82.
e. Refleksi
Pada tindakan siklus I ini penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan membaca pemahaman belum sempurna sesuai dengan yang diharapkan. Analisis terhadap observasi dijadikan sebagai bahan untuk menentukan tindakan selanjutnya. Setelah diadakan refleksi antara guru dan peneliti maka diperoleh hal-hal sebagai berikut :
1. Faktor siswa
a. Sebagian siswa tidak memperhatikan penjelasan guru
b. Sebagian siswa kurang aktif dalam kelompoknya dan siswa belum dapat menyampaikan pendapatnya pada saat materi pelajaran diajarkan atau pada saat siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dalam LKS, hal ini disebabkan karena siswa merasa asing dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
2. Faktor guru
a. Kehadiran teman sejawat mempengaruhi kinerja guru sebagai peneliti sehingga menjadi canggung dan suasana kelas agak kaku, hal ini nampak pada saat guru memberi penjelasan, volume suara kurang jelas dan gerakan kurang leluasa.
b. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dianggap hal yang baru bagi pribadi guru mata pelajaran bahasa indonesia, sehingga guru tidak secara merata memberikan bimbingan kepada setiap kelompok/individual.
2. Tindakan siklus II
a. Perencanaan
Tindakan Perencanaan siklus kedua dilaksanakan satu kali pertemuan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Perencanaan siklus dua dengan kompentensi dasar “menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Siklus kedua ini yang diamati adalah aktifitas guru, siswa dan hasil belajar siswa, aktifitas guru dan siswa yang dicapai 8 indikator yang diharapkan. Dalam melaksanakan pembelajaran ini peneliti sebagai guru dan bertindak sebagai pengamat adalah teman sejawat.
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II adalah :
1. Guru harus memotivasi siswa belajar agar siswa lebih bersemangat dalam belajar bahasa indonesia serta guru harus memberikan apersepsi.
2. Guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya.
3. Guru harus selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.
4. Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana.
Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan untuk tindakan siklus I, peneliti harus mempersiapkan juga scenario pembelajaran, lembar observasi untuk guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus II.
b. Pelaksanaan tindakan
Pada pelaksanaan tindakan siklus II ini, guru kembali berusaha melaksanakan pembelajaran agar sesuai dengan skenario pembelajaran tindakan siklus II. Adapun skenarionya sebagai berikut:
Guru : Dari hasil tes yang dilakukan sebelumnya, terlihat masih banyak yang mengalami kesulitan dalam menjawab soal, olehnya itu bapak akan lebih mempermantap materi kita pada hari ini. Baiklah bapak akan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran kita hari ini. (guru menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT). Kalian mengerti?
Siswa : mengerti pak
Guru : sekarang kalian akan bapak bagi kedalam 5 kelompok yang disesuaikan dengan urutan absen (Setelah membagi kelompok siswa lalu disuruh mencari teman kelompoknya).
Siswa : (siswa mencari teman kelompoknya).
Guru : guru menjelaskan materi dan menyuruh siswa mendiskusikan hal-hal yang telah dijelaskan guru bersama teman kelompoknya.
Siswa : mendiskusikan teks cerita
Guru : mengamati setiap kelompok dan membantu kelompok yang mengalami kesulitan. Kemudian guru menyuruh siswa untuk membacakan hasil diskusinya sesuai langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT
Siswa : secara bergantian setiap perwakilan kelompok yang telah ditunjuk membacakan hasil dari diskusinya.
Guru : Bagaimana jawaban temanmu tadi, siapa yang bisa memberikan tanggapan (mengarahkan siswa untuk mencermati dan memberikan tanggapan).
Siswa : Saya Pak (hampir semua siswa mengajukan tangan)
Guru : Coba kamu messy berikan tanggapan.
Siswa : (memberikan tanggapan)
Guru : Bagus, berarti kalian sudah mengerti pelajaran kita hari ini.
Guru : (memberikan penguatan agar siswa yang lain mau dan berani untuk memberikan jawaban tanpa rasa takut) sekarang Kelompok dua, tiga sampai kelompok lima tampil untuk membacakan hasil diskusinya.
Siswa : (kelompok kedua membacakan hasil diskusinya, namun bukan nomor yang telah ditunjuk sebelumnya). Kegiatan ini dilakukan bergantian antar kelompok.
Guru : membagikan soal tes berupa LKS yang dibagikan ke masing-masing siswa.
Kegiatan pembelajaran diawali dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dengan maksud agar siswa memiliki gambaran jelas tentang pengetahuan yang akan diperoleh setelah proses pembelajaran berlangsung. Kemudian guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran model kooperatif tipe NHT agar siswa mempunyai gambaran dalam proses pembelajaran nantinya. Setelah guru selesai menjelaskan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT, selanjutnya guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok yang beranggotakan 4-5 orang siswa tiap kelompoknya, ini disesuaikan dengan tingkat kecerdasan masing-masing anak yang diperoleh dari hasil tes siklus I, maksudnya dalam satu kelompok tidak ada yang mempunyai kemampuan yang merata. Guru juga melakukan tindakan perbaikan sebagaimana yang telah direncanakan pada tahap perencanaan meskipun belum maksimal. Materi yang diajarkan masih dalam pokok bahasan membaca pemahaman, dimana siswa diharuskan untuk menyelesaikan soal yang berkaitan dengan menentukan pokok pikiran serta menentukan latar dalam bacaan. Selama proses pembelajaran berlangsung, teman sejawat mengobservasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa.
c. Observasi
Secara umum pada pelaksanaan tindakan siklus II ini telah ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini terlihat pada hasil observasi guru dan siswa.
Hasil observasi terhadap guru menunjukan bahwa :
1. Guru selalu menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.
2. Guru sudah bersikap tegas dengan menegur /memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru.
3. Guru memberikan bantuan/bimbingan kepada kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dalam LKS dan memberikan penghargaan kepada kelompok /siswa yang menjawab dengan benar.
4. Guru sudah dapat melaksanakan hampir semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran pada siklus II.
Hasil observasi terhadap siswa menunjukan bahwa :
1. Siswa memperhatikan dengan baik penjelasan guru walaupun belum semaksimal yang diharapkan
2. Sebagian siswa sudah berani menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan.
3. Sebagian besar siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 9 hal 75.
d. Evaluasi
Setelah 2 kali pertemuan yang membahas materi mengenai membaca pemahaman, kembali diadakan evaluasi untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar bahasa indonesia siswa.
Jumlah 23/ 100
Rata-rata 62,6
Hasil tes siklus II menunjukkan peningkatan prestasi belajar bahasa indonesia siswa dibandingkan dengan siklus I yaitu, satu orang siswa mendapat nilai 40 (4,4%), empat orang siswa mendapat nilai 50 (17,3%), enam orang siswa mendapat nilai 60 (26,1%), dan duabelas orang siswa mendapat nilai 70 (52,2%). Dengan nilai rata-ratanya adalah 62,6. Dengan persen ketidak ketuntasan 47,8% dan persen ketuntasannya 52,2%.
Hal ini menandakan ada peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I. Dari 26,1% siswa yang telah memperoleh nilai 70 pada siklus I meningkat menjadi 52,2% siswa telah memperoleh nilai 70 pada siklus II. Dari hasil tes siklus II, walaupun menunjukkan peningkatan tetapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus III. Hasil evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 17 hal 83.
e. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II, hal yang masih perlu diperhatikan adalah bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan latihan perlu ditingkatkan. adapun Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ditemukan terjadi pada tindakan siklus II akan diperbaiki pada pelaksanaan tindakan siklus III.
c. Tindakan Siklus III
a. Perencanaan
Tindakan Perencanaan siklus ketiga dilaksanakan satu kali pertemuan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Perencanaan siklus III dengan kompentensi dasar “menyimpulkan isi cerita anak dalam beberapa kalimat” dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Dengan tujuan pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) siswa dapat menentukan pokok pikiran, (2) siswa dapat menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat, (3) siswa mampu menanggapi isi cerita (tokoh, watak, latar). Siklus ketiga ini yang diamati adalah aktifitas guru, siswa dan hasil belajar siswa, aktifitas guru dan siswa yang dicapai 8 indikator yang diharapkan. Dalam melaksanakan pembelajaran ini peneliti sebagai guru dan bertindak sebagai pengamat adalah teman sejawat.
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada pelaksanaan tindakan siklus II belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus III. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus II akan diperbaiki pada siklus III.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki tindakan siklus II adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal LKS yang telah diberikan. Selain itu, pada tahap perencanaan ini peneliti tetap membuat skenario pembelajaran, lembar observasi terhadap guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus III.
b. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT kembali dilakukan dengan mengikuti skenario pembelajaran yang telah dibuat untuk pelaksanaan tindakan siklus III.
Guru : sekarang kalian akan bapak bagi kedalam 5 kelompok sesuai dengan kelompoknya minggu lalu.
Siswa : (siswa mencari teman kelompoknya).
Guru : guru menjelaskan materi dan menyuruh siswa mendiskusikan hal-hal yang telah dijelaskan guru bersama teman kelompoknya.
Siswa : mendiskusikan teks cerita
Guru : mengamati setiap kelompok dan membantu kelompok yang mengalami kesulitan. Kemudian guru menyuruh siswa untuk membacakan hasil diskusinya sesuai langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT
Siswa : secara bergantian setiap perwakilan kelompok yang telah ditunjuk membacakan hasil dari diskusinya.
Guru : Bagaimana jawaban temanmu tadi, siapa yang bisa memberikan tanggapan (mengarahkan siswa untuk mencermati dan memberikan tanggapan).
Siswa : Saya Pak (hampir semua siswa mengajukan tangan)
Guru : Coba kamu messy berikan tanggapan.
Siswa : (memberikan tanggapan)
Guru : Bagus, berarti kalian sudah mengerti pelajaran kita hari ini.
Guru : (memberikan penguatan agar siswa yang lain mau dan berani untuk memberikan jawaban tanpa rasa takut)
Guru : sekarang Kelompok dua, tiga sampai kelompok lima tampil untuk membacakan hasil diskusinya.
Siswa : (kelompok kedua membacakan hasil diskusinya). Kegiatan ini dilakukan bergantian antar kelompok.
Guru : membagikan soal tes berupa LKS yang dibagikan ke masing-masing siswa
Siswa : satu persatu siswa yang ditunjuk naik mengerjakan soal di depan kelas
Kegiatan yang dilakukan setiap pertemuan pada siklus III adalah diawali dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada akhir proses belajar mengajar dan memberikan motivasi kepada siswa agar bersemangat dalam belajar. Tak lupa juga menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT, agar siswa lebih mantap dalam mengikuti pelajaran. Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 4-5 oramg setiap kelompok. Setelah kelompok terbentuk guru kemudian membagikan lembar bacaan yang akan didiskusikan dalam kelompoknya. Setelah selesai membimbing setiap kelompok, siswa kemudian ditunjuk untuk membacakan hasil kerja kelompoknya, ini disesuaikan dengan nomor yang dipilih secara acak dari masing-masing kelompok. Selama proses pembelajaran berlangsung guru tetap memantau dan memberikan bimbingan kepada setiap kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan. Selama proses belajar mengajar berlangsung peneliti mengobservasi jalannya pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa
c. Observasi
Teman sejawat kembali melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus III dan hasil observasi terhadap guru menunjukkan bahwa guru telah mampu melaksanakan skenario pembelajaran dengan baik. Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal berikut:
1. Semua siswa sudah memperhatikan penjelasan guru
2. Siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
3. Siswa sudah mampu mengemukakan pendapat. .
Secara umum pelaksanaan tindakan sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran telah dilaksanakan dengan baik oleh guru sebagai peneliti. Hanya masih ada sedikit kelemahan-kelemahan pada pihak siswa yaitu ada beberapa siswa yang belum mampu mengemukakan pendapat.
d. Evaluasi
Setelah 3 kali pertemuan, maka kembali diadakan tes tindakan siklus III untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar bahasa indonesia siswa.
Tabel 3. Data setelah diolah hasil belajar membaca pemahaman Jumlah 23 /100
Rata-rata 77,4
Dari hasil tes yang diadakan pada siklus III ini terjadi peningkatan yang signifikan terhadap perolehan nilai siswa, dimana satu orang siswa mendapat nilai 60 (4,4%), tujuh orang siswa mendapat nilai 70 (30,4%), duabelas orang siswa mendapat nilai 80 (52,2%), dan tiga orang siswa mendapat nilai 90 (13%). Hal ini menandakan ada peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa dari siklus II. Dengan nilai rata-ratanya 77,4. Dengan persen ketidak ketuntasan 95,7% dan persen ketuntasan 4,3%. Adapun Hasil evaluasi tindakan siklus III dapat dilihat pada lampiran 18 hal 84.
Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu dari 52,2% siswa telah memperoleh nilai 70 pada siklus II meningkat menjadi 95,7% siswa telah memperoleh nilai 70 ke atas pada siklus III.
Dari hasil tes siklus III menunjukkan adanya peningkatan dan telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan dihentikan hanya sampai pada siklus III. Hasil evaluasinya dapat dilihat pada lampiran 19 hal 85.
e. Refleksi
Kegiatan refleksi yang dilakukan pada tindakan siklus III menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan baik bagi guru mata pelajaran maupun bagi peneliti. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sudah mendapatkan hasil yang lebih baik, walaupun masih ada beberapa siswa yang belum dapat menyampaikan pendapat tetapi siswa tersebut aktif melibatkan diri dalam melaksanakan tugas kelompok.
Jika dilihat dari hasil tes pada evaluasi pelaksanaan tindakan siklus III, yaitu telah mencapai 95,7% siswa yag telah memperoleh nilai 70 ke atas atau dengan kata lain telah mencapai indikator keberhasilan, maka penelitian ini telah berhasil dilaksanakan sesuai rencana pelaksanaan penelitian dengan tiga siklus tindakan.
B. Pembahasan
Penelitian ini berakhir setelah pelaksanaan siklus III karena telah mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pada siklus I, perolehan nilai siswa berdasarkan ketuntasan belajar hanya 21,7% siswa yang telah memperoleh nilai 70. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, guru dan siswa telah melakukan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, namun masih terdapat kekurangan-kekurangan dimana kekurangan itu ada yang berasal dari guru dan ada juga yang berasal dari siswa. Diantaranya ada sebagian siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru pada saat menyampaikan materi, dan kekurangan yang berasal dari guru adalah belum terlaksananya semua komponen dalam skenario pembelajaran. Hal itu dikarenakan guru belum dapat mengatur waktu sebaik mungkin, guru terlalu banyak memberikan waktu pada siswa untuk bekerja menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Melihat kekurangan yang masih ada serta prestasi belajar bahasa indonesia siswa terhadap pokok bahasan membaca pemahaman pada tindakan siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka penelitian dilanjutkan pada tindakan siklus II.
Hal-hal yang harus diperbaiki pada tindakan siklus II adalah guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya. Guru juga harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana.
Pada tindakan siklus II, model pembelajaran kooperatif tipe NHT kembali dilaksanakan. Berdasarkan hasil observasi pada tindakan siklus II, kegiatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran telah meningkat. Dimana kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I sudah dapat diperbaiki sedikit demi sedikit. Siswa sudah lebih memperhatikan penjelasan guru walaupun hanya beberapa siswa mampu dan mau mengajukan pertanyaan jika mendapat masalah dalam menyelesaikan soal-soal LKS yang diberikan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus II, siswa yang memperoleh nilai 70 sebanyak duabelas orang atau 52,2%. Ini berarti mengalami peningkatan dibanding hasil evaluasi pada siklus I, dimana hanya lima orang yang mencapai nilai 70 atau 21,7%. Melihat hasil tes tindakan siklus II ini belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan maka penelitian dilanjutkan kembali pada siklus berikutnya. Hal-hal yang harus diperbaiki pada siklus III adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan.
Setelah siklus III, nilai siswa menunjukkan lagi peningkatan menjadi 95,7% siswa telah memperoleh nilai 70 ke atas dan secara rata-rata juga meningkat menjadi 77,4. Hal ini berarti telah mencapai indikator yang telah ditetapkan. Sedangkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran bisa dikatakan sempurna, yakni 100% komponen dalam skenario telah dilaksanakan dengan baik sesuai yang diharapkan. Karena kedua indikator telah tercapai, ini berarti hipotesis tindakan telah tercapai yaitu Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pembelajaran membaca pemahaman maka dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa kelas V SD Inpres Lompengeng.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pembelajaran membaca pemahaman maka dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa kelas V SD Inpres Lompengeng. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes siklus I, siswa yang memperoleh nilai minimal 70 sebanyak 21,7% meningkat pada siklus II menjadi 52,2%; siswa yang memperoleh nilai minimal 70 pada siklus III meningkat pula menjadi 95,7%.
B. Saran.
Berdasarkan kesimpulan, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Bagi guru diharapkan dapat mempelajari dan memahami agar mampu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam proses belajar mengajar, juga diharapkan selalu mencoba atau meneliti setiap model pembelajaran, sehingga model pembelajaran tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan.
2. Bagi siswa diharapkan agar dalam belajar selalu menanyakan masalah-masalah yang tidak dimengerti dalam materi yang diajarkan dan selalu melakukan diskusi dengan temannya dalam menyelasaikan setiap masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Saleh. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Efektif Di Sekolah Dasar.Jakarta : Depdiknas & Dirjen Dikti.
Anni, Chattarina Tri. 2005. Psikologi belajar. Semarang. UPT UNNES
Djaali. 1998. Pengaruh kebiasaan belajar dan intensitas mengikuti perkuliahan terhadap indeks prestasi mahasiswa jurusan pendidikan matematika FMIPA IKIP ujung pandang. Laporan penelitian IKIP Ujung pandang
Depdikbud. 1995/1996. Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas III-Kelas VI di Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Depdiknas. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta : Depdiknas.
Ibrahim. M. dkk. 2000. Pembelajaran kooperatif. Surabaya. Universitas neg. Surabaya
Khalik, Abdul. 2007. Pendidikan bahasa indonesia kelas tinggi. Makassar: universitas negeri makassar
Mc, taggart. 1998. the actoin research planner. victoria. deakin university press
Miles dan Huberman. Tanpa Tahun. Analisis Data Kualitaif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi
Moleong. 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya
Muhammad noor. 2005. Pembelajaran kooperatif. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Dasar Dan Menengah Lembaga Penjamin Mutu Jawa Timur
Rahim, Farida. 2007. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta : Bumi Aksara
Rhoders & Marling. 1988. Readers and Writers with a Difference.Denfer : Univercity of Collorado.
Syafi’ie. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia 1. Jakarta : Depdikbud.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan Nasional. Jakarta: PT Kloang Klede Putra Timur dan Departemen Dalam Negeri
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan media yang sangat berperan dalam menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam diri yang seluas-luasnya. Melalui pendidikan akan terjadi proses pendewasaan diri sehingga di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar. Mengingat peran pendidikan tersebut maka sudah seyogyanya aspek ini menjadi perhatian pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya masyarakat Indonesia yang berkualitas.
Hal ini, sejalan dalam UU SISDIKNAS NO. 20 Tahun 2003 tentang Tujuan Pendidikan Nasional adalah : Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berbahasa merupakan alat komunikasi yang tidak dapat dipisahkan dari aktifitas manusia dan mengingat keterampilan berbahasa sangatlah kompleks khusunya keterampilan membaca sehingga dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran bahasa perlu diterapkan berbagai model pembelajaran, pendekatan maupun teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi ataupun karateristik mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dinyatakan bahwa kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi: kemampuan keterampilan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Keempat keterampilan berbahasa tersebut di atas adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Keterampilan membaca adalah salah satu kemampuan dan keterampilan berbahasa yang mutlak dikuasai siswa SD. Hal ini sesuai dengan pendapat Syafi’ie (1993 : 42) bahwa :
“Kemampuan dan keterampilan baca-tulis, khususnya keterampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa Sekolah Dasar, karena kemampuan dan keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses kegiatan belajar siswa. Keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan untuk meningkatkan pengetahuan siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka membaca. Oleh karena itu pengajaran membaca mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar di Sekolah”.
Pentingnya kemampuan dan keterampilan membaca bagi setiap orang diungkapkan oleh Burn, dkk (dalam Farida 2007), bahwa kemampuan membaca merupakan kemampuan yang vital dalam masyarakat terpelajar. Anak yang tidak mampu membaca akan kehilangan motivasi dalam belajar. Sebalikya anak yang memiliki kemampuan membaca lebih mampu menyesuaikan perkembangan.
Menurut Saleh (2006), guna memberi bekal kemampuan dan keterampilan membaca siswa Sekolah Dasar diperlukan pembelajaran membaca yang dibedakan atas pengajaran membaca permulaan untuk kelas I, II dan membaca lanjut atau membaca pemahaman untuk kelas III-VI (Depdikbud dan Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia) membaca pemahaman atau membaca lanjut. Tujuan membaca permulaan adalah agar siswa dapat menguasai sistem tulisan dan terampil membaca. Sementara tujuan membaca lanjut atau membaca pemahaman adalah agar siswa mampu memahami isi bacaan yang disampaikan oleh penulis.
Kemampuan memahami isi bacaan dapat dilakukan melalui proses dan bertingkat, yaitu melalui tingkat rendah sampai ketingkat lebih tinggi. Saleh (2006) menyatakan bahwa membaca pemahaman dibagi atas lima tingkatan, yaitu (1) membaca pemahaman literal, (2) pemahaman inferensial, (3) pemahaman evaluatif,(4) pemahaman kreatif dan (5) pemahaman apresiasi. Kelima jenis pemahaman ini diharapkan sudah dapat dikuasai oleh siswa SD secara bertahap sesuai dengan jenjang kelas dan tingkat kemampuan kognitif.
Pembelajaran membaca di sekolah belum sesuai yang diharapkan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad (dalam Sumarsono 1994) bahwa ribuan anak-anak SD belum mampu membaca dengan baik. Akibatnya siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran karena mereka tidak memahami isi materi pelajaran. Selanjutnya dinyatakan bahwa kemampuan membaca siswa Sekolah Dasar di Indonesia rata-rata paling rendah pada tingkat ASEAN.
Kondisi tersebut di atas diasumsikan tidak jauh berbeda dengan kondisi di SD Inpres Lompengeng di Kabupaten Barru. Sesuai dengan hasil wawancara dengan salah seorang guru SD Inpres Lompengeng Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru ditemukan masalah: (1) kurangnya pemahaman anak dalam kegiatan pembelajaran membaca,(2) penggunaan model kooperatif belum digunakan oleh guru untuk mengefektifkan siswa, dan (3) pada akhir kegiatan pembelajaran membaca tidak terjadi tindak lanjut hasil kegitan membaca siswa.
Dari data yang diperoleh pada Tanggal 11 Januari 2010 pada Kelas V SD Inpres Lompengeng, dari 23 jumlah siswa di peroleh bahwa nilai rata-rata yang diperoleh dalam pelajaran Bahasa Indonesia khususnya membaca pemahaman rata-rata 5,2 yang seharusnya kriteria ketuntasan minimal siswa kelas V mencapai 7,0 ke atas. Kondisi pembelajaran membaca pemahaman di SD terteliti dinyatakan kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh perencanaan pembelajaran membaca tidak dilaksanakan secara berkelompok, dimana belum memanfaatkan teks bacaan sebagai bahan pembelajaran membaca, penggunaan metode cenderung ceramah dan penugasan secara individual yang sifatnya monoton, dan media yang digunakan cenderung buku paket saja sehingga terjadi komunikasi satu arah antara guru dan siswa.
Melihat hal tersebut, maka perlu diterapkan suatu sistem pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam kegiatan balajar mengajar, guna meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman di Tingkat Sekolah Dasar. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) karena pada model ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran dan terjadinya kerja sama dalam kelompok dengan ciri utamanya adanya penomoran sehingga semua siswa berusaha untuk memahami setiap materi yang diajarkan dan bertanggung jawab atas nomor anggotanya masing-masing. Dengan pemilihan model ini, diharapkan pembelajaran yang terjadi dapat lebih bermakna dan memberi kesan yang kuat kepada siswa.
Berdasarkan pemikiran di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul: “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini rumusan masalah yang dikemukakan adalah “Bagaimana Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng?”
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan Penelitian ini adalah “Untuk mengetahui apakah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng”.
D. Manfaat Penelitian
Pembelajaran membaca pemahaman melalui Model Kooperatif Tipe NHT yang dikembangkan dalam Penelitan Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan berkontribusi sebagai berikut :
a. Manfaat Praktis
a) Untuk guru, temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan (1) meningkatkan perencanaan pengajaran, melaksanakan pembelajaran, dan pelaksanaan evaluasi proses serta hasil pembelajaran membaca, (2) menggunakan hasil penelitian ini sebagai bentuk inovasi Bahasa Indonesia yang efektif.
b) Untuk siswa, dapat meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan perasaan menyenangkan (enjoy) karena mereka diarahkan untuk berpikir kritis.
c) Untuk sekolah, diharapkan penelitian ini dapat memberikan upaya pengembangan mutu dalam pembelajaran sehingga berindikasi meningkatkan hasil pembelajaran di sekolah.
d) Untuk peneliti, diharapkan dapat dijadikan acuan model pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan Model Kooperatif Tipe NHT
e) Untuk masyarakat, diharapakan dapat memberikan dampak yang dapat memberikan gambaran pendidikan.
b. Manfaat Teoritis
Temuan Penelitian ini dapat dijadikan sebagai Landasan Teori Pembelajaran Bahasa Indonesia pada umumnya dan khususnya dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman di Sekolah Dasar.
BAB II
Kajian Pustaka, Kerangka Pikir dan Hipotesis Tindakan
A. Kajian Pustaka
1. Hakekat Membaca
Mencermati beraneka ragamnya batasan hakekat membaca yang diberikan oleh para pakar, berdampak terhadap memperluas wawasan pemerhati membaca itu sendiri. Pemberian batasan tersebut didasarkan pada pendekatan keterampilan dan pendekatan psikolinguistik yang dipergunakan pakar dalam menganalisis membaca, sehingga menimbulkan berbagai pengertian membaca. Para pakar yang menganalisis membaca sebagai suatu keterampilan, memandang hakekat membaca itu sebagai proses atau kegiatan yang menerapkan seperangkat keterampilan dalam mengelola hal-hal yang dibaca untuk menangkap makna. Sedangkan para pakar yang mengutamakan psikolinguistik, menyikapi membaca itu sebagai merekonstruksi informasi yang terdapat dalam bacaan atau sebagai suatu upaya untuk mengelola informasi dengan menggunakan pengalaman atau kemampuan pembaca dan kompetensi bahasa yang dimilikinya secara kritis.
Dengan beraneka ragamnya batasan hakekat membaca, pada uraian ini hakekat membaca akan disesuaikan dengan hakekat membaca yang mengacu pada tujuan pembelajaran, yaitu membaca hakekatnya adalah suatu aktivitas untuk menangkap informasi bacaan baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam bentuk pemahaman bacaan secara literal, infrensial, evaluatif, kreatif, dan apresiasi, denagan memanfaatkan pengalaman belajar pembaca, (saleh abbas, 2006 : 102).
Pemahaman literal adalah kemampuan memahami ide-ide yang tampak secara eksplisit dalam wacana. Pemahaman infrensial adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung dalam wacana. Pemahaman evaluatif merupakan kemampuan memahami isi wacana. Pemahaman kreatif merupakan kemampuan mengungkapkan respon emosional, misalnya mengenai bentuk sastra, gaya, jenis, dan teori sastra. sedangkan pemahaman apresiasi mencakup kemampuan seperti; (1) kemapuan merespon wacana secara emosional dengan cara mengungkapkan perasaan yang terkait dengan isi wacana, seperti rasa senang, benci, tidak suka, puas dan sebagainya, (2) kemampuan mengidentifikasi diri dengan pelaku, peristiwa yang tersaji dalam wacana, (3) kemampuan mereaksi bahasa pengarang dengan cara mengungkapkan sejauh mana kemahiran penulis menggunakan bahasanya, (4) kemampuan imaginary yang dilakukan dengan cara menyatakan kembali apa yang seakan-akan dilihat, didengar, dicium, atau dirasakan saat membaca.
2. Membaca pemahaman
Membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan membaca yang dilaksanakan untuk memahami isi bacaan tanpa menekankan aspek waktu. Pemahaman terhadap bacaan dapat dipandang sebagai suatu proses yang bergulir, terus menerus, dan berkelanjutan.
Durkin (dalam Khalik, 2007: 3) tujuan membaca pemahaman adalah (1) mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan siswa sesuai topik bacaan; (2) menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri; (3) meringkas bacaan; (4) mengemukakan gagasan utama; (5) menentukan bagian yang menarik dalam cerita; (6) mengemukakan pesan cerita dan sifat pelaku; (7) memberi tanggapan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman sebagai suatu proses untuk memahami gagasan atau ide penulis yang tertuang dalam bacaan. Hal ini sejalan dengan apa yang di ungkapkan oleh Durkin (dalam Khalik: 17) bahwa membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan mengenali kata-kata pengarang dan memahami isinya sesuai dengan konteks yang ada.
3. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu peroses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan-perubahan sebagai hasil belajar dapat ditunjukkan dengan berbagai bentuk perubahan seperti pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, dan kemampuan serta perubahan-perubahan pada aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Menurut pengertian psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Sejalan dengan pengertian belajar dimana belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
“Witherington (Djaali, 1998: 19) mengemukakan bahwa belajar memerlukan bermacam-macam kegiatan seperti berbuat, mendengarkan, mengingat, membaca buku, mempelajari diagram, memperhatikan, demonstrasi, bertanya, merenungkan, berfikir, menganalisa, membandingkan dan menggunakan masa lampau”.
Belajar membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, kebiasaan sikap, pengertian, penghargaan, minat, dan penyesuaian diri. Karena itu seorang yang belajar tidak sama lagi pada saat sebelum belajar. Ia lebih sanggup menghadapi kesulitan memecahkan masalah atau menyesuaikan diri dengan keadaan dan ia tidak hanya menambah pengetahuannya, akan tetapi dapat pula menerapkannya secara fungsional dalam situasi hidupnya.
Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa balajar merupakan kegiatan yang aktif dilakukan karena ingin mencapai hasil, baik berupa sikap, tingkah laku maupun perubahan keterampilan, pengetahuan dan pemahaman.
4. Hasil Belajar
Menurut Anni (2005:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan. Hasil belajar ini sangat dibutuhkan sebagai petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar yang sudah dilaksanakan. Hasil belajar dapat diketahui melalui evaluasi untuk mengukur dan menilai apakah siswa sudah menguasai ilmu yang dipelajari sesuai tujuan yang telah ditetapkan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar (Anni, 2005:11) yaitu sebagai berikut.
a. Faktor Internal
Faktor internal mencakup kondisi fisik seperti kesehatan organ tubuh, kondisi psikis seperti kemampuan intelektual, emosional dan kondisi sosial seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Kesempurnaan dan kualitas kondisi internal yang dimiliki siswa akan berpengaruh terhadap kesiapan, proses dan hasil belajar.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal antara lain kesulitan materi yang dipelajari, tempat belajar, iklim, suasana lingkungan dan budaya belajar masyarakat. Faktor eksternal ini juga akan mempengaruhi kesiapan, proses dan hasil belajar.
5. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Menurut Mohamad Nur (2005:1-2) Pembelajaran Kooperatif merupakan strategi pembelajaran di mana siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan siswa yang berbeda kemampuannya, jenis kelamin bahkan latar belakangnya untuk membantu belajar satu sama lainnya sebagai sebuah tim. Semua anggota kelompok saling membantu anggota yang lain dalam kelompok yang sama dan bergantung satu sama lain untuk mencapai keberhasilan kelompok dalam belajar. Pembelajaran Kooperatif dilakukan dengan membentuk kelompok kecil yang anggotanya heterogen untuk bekerja sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan masalah, tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama.
2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Muslimin Ibrahim, dkk (2000:7-10) terdapat tiga Tujuan Instruksional penting yang dapat dicapai dengan Pembelajaran Kooperatif yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, pengembangan keterampilan sosial. Hasil belajar akademik Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik (Ibrahim, 2000:7).
3. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran secara kooperatif atau kerja kelompok dapat mencapai hasil yang baik maka diperlukan unsur-unsur sebagai berikut.
1. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan mereka “sehidup sepenanggungan”.
2. Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri.
3. Siswa harus melihat bahwa semua anggota kelompoknya mempunyai tujuan yang sama.
4. Siswa harus membagi tugas dan tanggungjawab yang sama pada semua anggota kelompok.
5. Siswa akan dikenakan evaluasi atau akan diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
7. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama.(Ibrahim, 2000:6)
4. Landasan Teori dan Empirik Pembelajaran Kooperatif
Perkembangan model pembelajaran kooperatif pada masa kini dapat dilacak dari karya para ahli psikologi pendidikan dan teori belajar pada awal abad ke-20, diantaranya :
a. John Dewey, Herbert Thelan, dan Kelas Demokratis John Dewey menetapkan sebuah konsep pendidikan yang menyatakan bahwa kelas seharusnya cermin masyarakat yang lebih besar dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pedagogi Dewey mengharuskan guru menciptakan di dalam lingkungan belajarnya suatu sistem sosial yang bercirikan dengan prosedur demokrasi dan proses ilmiah. Seperti halnya Dewey, Thelan berargumentasi bahwa kelas haruslah merupakan laboratorium atau miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi. (Ibrahim, 2000:12)
b. Gordon Allport dan Relasi Antar Kelompok Ahli sosiologi Gordon Allport mengingatkan bahwa hukum saja tidak akan mengurangi kecurigaan antar kelompok dan mendatangkan penerimaan serta pemahaman yang lebih baik. Gordon merumuskan 3 kondisi dasar untuk mencegah terjadinya kecurigaan antar ras dan etnik, yaitu: a) kontak langsung antar etnik, b) sama-sama berperan serta di dalam kondisi status yang sama antara anggota dari berbagai kelompok dalam suatu setting tertentu, c) setting secara resmi mendapat persetujuan kerjasama antar etnik.
c. Belajar Berdasakan Pengalaman Johnson&Johnson seorang pencetus teori-teori unggul tentang pembelajaran kooperatif menyatakan bahwa belajar berdasarkan pengalaman didasarkan atas tiga asumsi:
1) Bahwa belajar paling baik jika secara pribadi terlibat dalam pengalaman belajar itu.
2) Bahwa pengetahuan harus ditemukan sendiri apabila pengetahuan itu hendak dijadikan pengetahuan yang bermakna atau membuat suatu perbedaan tingkah laku.
3) Bahwa komitmen terhadap belajar paling tinggi apabila anda bebas menetapkan tujuan pembelajaran sendiri dan secara aktif mempelajari tujuan itu dalam suatu kerangka tertentu. (Ibrahim, 2000:15)
d. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Terhadap Kemampuan Akademik. Satu aspek penting pembelajaran kooperatif ialah bahwa disamping pembelajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, pembelajaran kooperatif secara bersamaan membantu siswa dalam bidang akademis mereka. Setelah menelaah sejumlah penelitian, Slavin (Muslimin, 2000:16) mengatakan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Hasil lain penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif untuk siswa yang rendah hasil belajarnya. Manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar rendah antara lain: a) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas, b) rasa harga diri menjadi lebih tinggi, c) memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah, d) penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi besar, e) pemahaman yang lebih mendalam f) motivasi lebih besar, g) hasil belajar lebih tinggi, h) retensi lebih lama, i) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi. (Ibrahim, 2000:16)
6. Model pembelajaran kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)
Model NHT merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri atas empat tahap yang digunakan untuk mereview fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur interaksi siswa. Model pembelajaran ini juga dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang tingkat kesulitannya terbatas. Struktur NHT sering disebut berpikir secara kelompok.
NHT digunakan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok. Adapun ciri khas dari NHT adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menujuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut. Menurut Muhammad Nur (2005:78), dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Selain itu model pembelajaran NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
Dengan adanya keterlibatan total semua siswa tentunya akan berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa. Siswa akan berusaha memahami konsep-konsep ataupun memecahkan permasalahan yang disajikan oleh guru seperti yang diungkapkan oleh Ibrahim, dkk (2000:7) bahwa dengan belajar kooperatif akan memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademik penting lainnya serta akan memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademis.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil Belajar Akademik Stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan Adanya Keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan Keterampilan Sosial
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen (1993) dengan tiga langkah yaitu :
a. Pembentukan kelompok
b. Diskusi masalah
c. Tukar jawaban antar kelompok.
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh (Ibrahim: 2000) menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Enam langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pra-tes) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
7. Manfaat model pembelajaran koopratif tipe NHT
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
a. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
b. Memperbaiki kehadiran
c. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
d. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
e. Konflik antara pribadi berkurang
f. Pemahaman yang lebih mendalam
g. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
h. Hasil belajar lebih tinggi.
B. Kerangka Pikir
Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran bahasa indonesia, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran. Menyikapi kenyataan ini, penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT, karena model pembelajaran ini bukan hanya kognitif siswa yang ditingkatkan tapi juga melatih siswa untuk bekerja sama dalam hal memecahkan masalah.
Dengan demikian, untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V SD. Inpres Lompengeng khususnya pada pokok bahasan membaca pemahaman, guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kegiatan pembelajaran kooperatif tipe NHT terdiri dari enam tahap yaitu: (1) persiapan, (2) pembentukan kelompok, (3) pembagian buku paket, (4) diskusi masalah, (5) memanggil nomor/ pemberian jawaban, (6) kesimpulan.
Guna memudahkan pemahaman terhadap permasalahan yang sedang dikaji, maka akan dikemukakan alur/ skema kerangka fikir seperti di bawah ini:
Gambar 2.1 kerangka pikir membaca pemahaman dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
C. Hipotesis Tindakan
Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pembelajaran membaca pemahaman maka dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa kelas V SD Inpres Lompengeng.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang dipilih atau digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Secara spesifik, pendekatan kualitatif adalah sesuatu yang berkaitan dengan aspek kualitas nilai dan makna hanya dapat diungkapkan dan dijelaskan melalui lingistik bahasa atau kata-kata. Oleh karena itu, bentuk kata yang digunakan bukan berbentuk bilangan, angka, skor dan nilai. Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan aktivitas siswa dan guna dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran.
Jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang bersifat dedukatif. Model PTK yang dipilih untuk mengungkapkan hasil penelitian sesuai dengan data dan fakta yang diperoleh di kelas adalah model Kemmis dan MC Taggart. Menurut Arikunto (2006), tujuan PTK adalah meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik. Bentuk PTK yang dipilih adalah bentuk kolaborasi antara guru dan peneliti. Pelaksanaan penelitian ini melalui proses pengkajian bersama yang terdiri dari empat tahap yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Daur PTK ditujukan sebagai perubahan atas hasil refleksi tindakan sebelumnya yang dianggap belum berhasil, maka masalah tersebut dipecahkan kembali dengan mengikuti daur sebelumnya.
B. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas V SD Inpres Lompengeng. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 selama 3 bulan, waktu tersebut dimulai dari tahap laporan yang dimulai dari tiga siklus.
Penulis memilih SD Inpres Lompengeng berdasar pertimbangan (1) merupakan tempat tinggal penulis, (2) sudah saling mengenal antara guru-guru dan siswa sehingga mudah untuk mendapatkan informasi, (3) mudah dijangkau.
C. Subjek Peneliti
Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Inpres Lompengeng berjumlah 23 orang yang terdiri 9 orang putra dan 14 orang putri.
D. Data dan Sumber data
1. Data
Data penelitian ini berupa hasil informasi tentang proses pembelajaran dan data hasil belajar siswa terhadap soal yang diberikan yang meliputi : (1) tes awal sebelum tindakan, tes akhir tindakan pada setiap tahap pembelajaran, dan tes akhir setelah berakhirnya setiap tindakan pembelajaran. (2) hasil wawancara dengan subjek penelitian, (3) hasil pengamatan selama pembelajaran berlangsung, (4) hasil catatan lapangan yang sesuai dengan kegiatan siswa selama proses pembelajaran yang berkaitan dengan tindakan. Sedangkan data yang diperoleh dari guru adalah kesesuaian perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dalam membaca pemahaman.
2. Sumber Data
Sumber data yang dijadikan populasi dalam penelitian ini diambil adalah guru dan siswa. Siswa kelas V SD Inpres Lompengeng yang berjumlah 23 orang dan terdaftar pada semester genap.
E. Prosedur pelaksanaan penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model alur PTK yang diadaptasi dari Mc Teggart (Khalik, 2009), bahwa peneliti tindakan kelas mengikuti proses daur ulang melalui perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, seperti digambarkan pada siklus di bawah ini:
Adapun kegiatan yang dilakukan setiap siklus adalah sebagai berikut :
a. Siklus I
Untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajar bahasa Indonesia pokok bahasan membaca pemahaman, maka kegiatannya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan. Setelah berkonsultasi dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus I
2. membuat lembar observasi terhadap guru dan siswa selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas
3. membuat Lembar Kerja Siswa (LKS)
4. membuat alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I
5. membuat jurnal untuk refleksi diri.
b. Siklus II
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi, pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II adalah :
1. Guru harus memotivasi siswa belajar agar siswa lebih bersemangat dalam belajar bahasa indonesia serta guru harus memberikan apersepsi.
2. Guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya.
3. Guru harus selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.
4. Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana.
Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan untuk tindakan siklus I, peneliti harus mempersiapkan juga skenario pembelajaran, lembar observasi untuk guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus II.
c. Siklus III
Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi diri pada tindakan siklusII, maka peneliti bersama dengan guru merencanakan tindakan siklus III agar kekurangan-kekurangan pada tindakan siklus II dapat diperbaiki.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki tindakan siklus II adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal LKS yang telah diberikan. Selain itu, pada tahap perencanaan ini peneliti tetap membuat skenario pembelajaran, lembar observasi terhadap guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus III.
F. Analisis Data
Analisis data dilaksanakan berdasarkan data model mengalir dengan mengacu pada pendapat Miles dan Huberman (1992 : 19), yaitu dengan menelaah seluruh data yang ada, kemudian direduksi berdasarkan masalah yang diteliti, data dalam satuan-satuan kategori. Data penarikan simpulan atau pemaknaan. Menentukan kriteria keberhasilan tindakan mengacu pada rambu-rambu format pengamatan dengan taraf keberhasilan tindakan seperti pada tabel berikut.
Taraf keberhasilan tindakan dalam pembelajaran membaca pemahaman tingkat tinggi melalui Model Kooperatif tipe NHT di SD Inpres Lompengeng.
Taraf keberhasilan Kualifikasi Nilai/angka
85%-100% Sangat baik (SB) 5
70%-84% Baik (B) 4
55%-69% Cukup (C) 3
46%-54% Kurang (K) 2
0%-45% Sangat kurang (SK) 1
Sumber : Buku Pedoman IKIP Malang 1999.
G. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik instrumen utama dan instrumen penunjang. Instrumen utama adalah peneliti sendiri yang mengumpulkan, menyeleksi, menilai, menyimpulkan, dan menentukan data. Hal ini, sejalan dengan pendapat Bogdau dan Biklen (Khalik,2009:37) bahwa peneliti sebagai instrumen utama merupakan orang yang mengetahui seluruh data dan cara menyikapinya.
Dalam buku PTK Abdul Khalik, Moleong menyatakan bahwa teknik yang paling tepat untuk penelitian kulitatif adalah (1) Observasi, (2) wawancara, (3) catatan lapangan, (4) dokumentasi. Keempat teknik tersebut digunakan secara profesional dan mengarah pada sasaran yang di harapkan.
Teknik observasi dimaksudkan untuk mendeskripsikan tentang latar, aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam kegiatan apresiasi cerita sesuai dengan pedoman observasi yang telah di buat sebelumnya. Teknik wawancara di maksudkan untuk melengkapi data yang diambil melalui teknik observasi. Teknik ini dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan praktisi dan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran menulis cerita dengan menggunakan pendekatan proses.
Teknik catatan lapangan atau catatan harian digunakan sebagai catatan refleksi peneliti terhadap tindakan praktisi berupa gagasan atau pendapat pada saat pembelajaran berlangsung dengan fokus pada perilaku dan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran. Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk melihat proses dan hasil belajar secara tertulis. Sedangkan tes dimaksudkan untuk melihat dampak perkembangan hasil belajar siswa disetiap siklus.
H. Observasi
Tahap observasi adalah mengamati seluruh proses tindakan dan pada saat selesai tindakan fokus observasi adalah aktifitas guru dan siswa. Aktivitas guru dapat diamati mulai pada tahap awal pembelajaran, saat pembelajaran, dan akhir pembelajaran. Data aktivitas guru dan siswa diperoleh dengan menggunakan format observasi, pedoman wawancara, rekaman, dan hasil belajar membaca pemahaman setiap responden.
I. Refleksi
Menganalisis, memahami, menjelaskan, dan menyimpulkan hasil dari pengamatan adalah merupakan rangkaian kegiatan peneliti pada tahap refleksi. Peneliti bersama guru menaganalisis dan merenungkan hasil tindakan pada siklus tindakan sebagai bahan pertimbangan apakah pemberian tindakan yang dilakukan perlu diulangi atau tidak. Jika perlu diulangi, maka peneliti menyusun kembali rencana (revisi) untuk siklus berikutnya. Demikian seterusnya hingga seluruh siswa memperoleh nilai 7,0. keatas
J. Analisis dan validasi data
Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data aspek guru dan siswa, menyajikan data, menafsirkan data, dan menyimpulkan. Data aspek guru dan siswa dalam proses pembelajaran dianalisis berdasarkan kemunculan indikator. Sedangkan data hasil dari pelajaran membaca pemahaman dianalisis berdasarkan mengerjakan tes akhir formatif tiap-tiap siklus 1, 2 dan 3. dengan indikator dapat dilihat pada tabel 3.2 sebagai berikut.
Meningkatkan pembelajaran pada aspek guru dan siswa digunakan acuan dengan
rumus:
K. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu:
1. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan peningkatan hasil belajar membaca pemahaman siswa minimal 80% siswa telah memperoleh nilai minimal 7,0.
2. Indikator keberhasilan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran yaitu minimal 80% skenario pembelajaran yang dibuat telah dilaksanakan dengan benar.
Tabel 3.2 Taraf Kualifikasi Tindakan Pembelajaran
No Taraf Keberhasilan Kualifiasi
1. 85% - 100% Sangat Baik (SB)
2. 70 – 84% Baik (B)
3. 55% - 69% Cukup (C)
4. 46% - 54% Kurang (K)
5. 0% - 45% Sangat Kurang (SK)
Sumber: Mill (Khalik, 2008: 35)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Dalam bab IV ini akan dipaparkan temuan-temuan hasil tindakan dan pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan metode kooperatif tipe NHT. Paparan data dan temuan penelitian berkaitan dengan rumusan masalah yaitu: “Bagaimana Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Pemahaman Kelas V Siswa SD Inpres Lompengeng.
Paparan data masalah diatas yang terdiri atas 3 siklus yaitu siklus pertama, siklus kedua sampai siklus ketiga yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, hasil observasi dan refleksi, keempat hal tersebut diatas diuraikan sebagai berikut:
1. siklus I
a. Perencanaan
Perencanaan siklus pertama dilaksanakan satu kali pertemuan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Perencanaan siklus satu dengan kompentensi dasar “menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan. Setelah berkonsultasi dengan guru bidang studi bahasa Indonesia, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus I
2. membuat lembar observasi terhadap guru dan siswa selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas
3. membuat Lembar Kerja Siswa (LKS)
4. membuat alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I
5. membuat jurnal untuk refleksi diri.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dipersiapkan, Adapun hal-hal yang dilakukan pada tahap pelaksanaan tindakan adalah implementasi rencana yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah pelaksanaan langkah-langkah proses pembelajaran yang telah disusun pada rencana pembelajaran.
Guru : sekarang kalian akan bapak bagi kedalam 5 kelompok yang disesuaikan dengan urutan absen (Setelah membagi kelompok siswa lalu disuruh mencari teman kelompoknya).
Siswa : (siswa mencari teman kelompoknya).
Guru : Sudah dapat kelompoknya?
Siswa : Sudah, Pak!
Guru : Tugas kalian adalah membacakan teks cerita yang bapak bagikan, kemudian kalian diskusikan mengenai hal-hal yang telah bapak jelaskan tadi. Nah sekarang bapak akan menunjuk satu orang dari setiap kelompok untuk membacakan hasil diskusinya di tempat kelompoknya. Adapun yang akan bapak tunjuk adalah nomor yang telah bapak berikan tadi. Apakah kalian masih mengingat nomornya masing-masing?
Siswa : masih Pak. (Semua kelompok)
Guru : Baiklah, kalau begitu Bapak yang akan menunjuk nomor 3 dari kelompok satu, kemudian kelompok dua yang membacakan adalah nomor 1, kelompok tiga, empat dan lima yang membacakan adalah masing-masing nomor 2, 3, dan 5.
Siswa : (Membacakan hasil diskusinya berdasarkan materi yang telah dijelaskan sebelumnya)
Guru : Bagaimana jawaban temanmu tadi, siapa yang bisa memberikan tanggapan (mengarahkan siswa untuk mencermati dan memberikan tanggapan).
Siswa : Saya Pak (hanya sebagian kecil siswa mengajukan tangan)
Guru : Coba kamu fitri berikan tanggapan.
Siswa : (memberikan tanggapan)
Guru : sekarang Kelompok dua, tiga sampai kelompok lima tampil untuk membacakan hasil diskusinya.
Siswa : (kelompok kedua membacakan hasil diskusinya, namun bukan nomor yang telah ditunjuk sebelumnya). Kegiatan ini dilakukan bergantian antar kelompok.
Guru : membagikan soal tes berupa LKS yang dibagikan ke masing-masing siswa
Siswa : (mengerjakan soal)
Guru : sudah selesai dikerjakan!
Dalam proses pembelajaran, siswa dibagi dalam 5 kelompok dengan nomor yang berbeda untuk setiap siswa dalam kelompoknya dan setiap kelompok beranggotakan 4 dan ada pula yang beranggotakan 5 orang siswa. Selanjutnya setiap kelompok dibagikan LKS untuk didiskusikan bersama anggota kelompoknya, guru memberikan bimbingan kepada siswa dalam kelompok terutama kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah dalam LKS. Kegiatan selanjutnya adalah siswa diminta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya pada tempatnya masing-masing untuk siswa yang nomornya di sebut oleh guru dan siswa dikelompok lain memperhatikan dan membandingkan dengan pekerjaannya. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengobservasi jalannya pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa sebagaimana yang tercantum pada lampiran 7 hal 73.
c. Observasi
Hal-hal yang diobservasi pada pelaksanaan tindakan siklus I adalah cara guru menyajikan materi pelajaran apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat atau belum. Selain itu juga dilihat aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
Hasil observasi teman sejawat terhadap guru sebagai peneliti menunjukkan hal-hal sebagai berikut :
1. Guru tidak memberi motivasi dan tidak memberi apersepsi.
2. Guru tidak menjelaskan langkah-langkah metode pembelajaran kooperatif tipe NHT
3. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
4. Guru mengorganisasi siswa dalam 5 kelompok belajar dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang
5. Guru tidak secara merata memberikan bimbingan kepada setiap kelompok.
6. Guru menyiapkan LKS sebagai alat bantu dalam pembelajaran
7. Guru belum mampu mengelola waktu dengan baik, akibatnya ada tahapan–tahapan dalam skenario pembelajaran yang tidak terlaksana karena kehabisan waktu.
Hasil observasi terhadap siswa menunjukan hal-hal sebagai berikut :
1. Pada pertemuan pertama siswa terlihat masih kaku berada dalam kelompoknya.
2. Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam mengerjakan soal-soal dalam LKS yang telah diberikan
3. Sebagian siswa masih ragu mengemukakan pendapat
4. Hanya beberapa siswa yang mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan ada siswa yang merasa gugup ketika nomornya terpanggil untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Selengkapnya hasil observasi dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 73.
d. Evaluasi
Dilihat dari hasil yang diperoleh siswa pada tindakan siklus I, siswa belum menunjukan hasil yang memuaskan. Selama mengerjakan tes terdapat beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan menentukan pokok pikiran.
Jumlah 23 100
Rata-rata 57,8
Hasil pekerjaan siswa pada tindakan siklus 1 menunjukan data hasil tes formatif yang diberikan, yakni tiga orang siswa mendapat nilai 30 (13%), satu orang siswa mendapat nilai 40 (4,4%), delapan orang siswa mendapat nilai 50 (34,7%), enam orang siswa yang mendapat nilai 60 (26,1%), dan lima orang siswa mendapat nilai 70 (21,7%). Dengan nilai rata-rata adalah 57,8. Dengan persen ketidak ketuntasan 78,3% dan persen ketuntasan 21,7%. Hasil evaluasi tindakan siklus I dapat dilihat pada lampiran 16 halaman 82.
e. Refleksi
Pada tindakan siklus I ini penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan membaca pemahaman belum sempurna sesuai dengan yang diharapkan. Analisis terhadap observasi dijadikan sebagai bahan untuk menentukan tindakan selanjutnya. Setelah diadakan refleksi antara guru dan peneliti maka diperoleh hal-hal sebagai berikut :
1. Faktor siswa
a. Sebagian siswa tidak memperhatikan penjelasan guru
b. Sebagian siswa kurang aktif dalam kelompoknya dan siswa belum dapat menyampaikan pendapatnya pada saat materi pelajaran diajarkan atau pada saat siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dalam LKS, hal ini disebabkan karena siswa merasa asing dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
2. Faktor guru
a. Kehadiran teman sejawat mempengaruhi kinerja guru sebagai peneliti sehingga menjadi canggung dan suasana kelas agak kaku, hal ini nampak pada saat guru memberi penjelasan, volume suara kurang jelas dan gerakan kurang leluasa.
b. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dianggap hal yang baru bagi pribadi guru mata pelajaran bahasa indonesia, sehingga guru tidak secara merata memberikan bimbingan kepada setiap kelompok/individual.
2. Tindakan siklus II
a. Perencanaan
Tindakan Perencanaan siklus kedua dilaksanakan satu kali pertemuan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Perencanaan siklus dua dengan kompentensi dasar “menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Siklus kedua ini yang diamati adalah aktifitas guru, siswa dan hasil belajar siswa, aktifitas guru dan siswa yang dicapai 8 indikator yang diharapkan. Dalam melaksanakan pembelajaran ini peneliti sebagai guru dan bertindak sebagai pengamat adalah teman sejawat.
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II adalah :
1. Guru harus memotivasi siswa belajar agar siswa lebih bersemangat dalam belajar bahasa indonesia serta guru harus memberikan apersepsi.
2. Guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya.
3. Guru harus selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.
4. Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana.
Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan untuk tindakan siklus I, peneliti harus mempersiapkan juga scenario pembelajaran, lembar observasi untuk guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus II.
b. Pelaksanaan tindakan
Pada pelaksanaan tindakan siklus II ini, guru kembali berusaha melaksanakan pembelajaran agar sesuai dengan skenario pembelajaran tindakan siklus II. Adapun skenarionya sebagai berikut:
Guru : Dari hasil tes yang dilakukan sebelumnya, terlihat masih banyak yang mengalami kesulitan dalam menjawab soal, olehnya itu bapak akan lebih mempermantap materi kita pada hari ini. Baiklah bapak akan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran kita hari ini. (guru menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT). Kalian mengerti?
Siswa : mengerti pak
Guru : sekarang kalian akan bapak bagi kedalam 5 kelompok yang disesuaikan dengan urutan absen (Setelah membagi kelompok siswa lalu disuruh mencari teman kelompoknya).
Siswa : (siswa mencari teman kelompoknya).
Guru : guru menjelaskan materi dan menyuruh siswa mendiskusikan hal-hal yang telah dijelaskan guru bersama teman kelompoknya.
Siswa : mendiskusikan teks cerita
Guru : mengamati setiap kelompok dan membantu kelompok yang mengalami kesulitan. Kemudian guru menyuruh siswa untuk membacakan hasil diskusinya sesuai langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT
Siswa : secara bergantian setiap perwakilan kelompok yang telah ditunjuk membacakan hasil dari diskusinya.
Guru : Bagaimana jawaban temanmu tadi, siapa yang bisa memberikan tanggapan (mengarahkan siswa untuk mencermati dan memberikan tanggapan).
Siswa : Saya Pak (hampir semua siswa mengajukan tangan)
Guru : Coba kamu messy berikan tanggapan.
Siswa : (memberikan tanggapan)
Guru : Bagus, berarti kalian sudah mengerti pelajaran kita hari ini.
Guru : (memberikan penguatan agar siswa yang lain mau dan berani untuk memberikan jawaban tanpa rasa takut) sekarang Kelompok dua, tiga sampai kelompok lima tampil untuk membacakan hasil diskusinya.
Siswa : (kelompok kedua membacakan hasil diskusinya, namun bukan nomor yang telah ditunjuk sebelumnya). Kegiatan ini dilakukan bergantian antar kelompok.
Guru : membagikan soal tes berupa LKS yang dibagikan ke masing-masing siswa.
Kegiatan pembelajaran diawali dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dengan maksud agar siswa memiliki gambaran jelas tentang pengetahuan yang akan diperoleh setelah proses pembelajaran berlangsung. Kemudian guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran model kooperatif tipe NHT agar siswa mempunyai gambaran dalam proses pembelajaran nantinya. Setelah guru selesai menjelaskan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT, selanjutnya guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok yang beranggotakan 4-5 orang siswa tiap kelompoknya, ini disesuaikan dengan tingkat kecerdasan masing-masing anak yang diperoleh dari hasil tes siklus I, maksudnya dalam satu kelompok tidak ada yang mempunyai kemampuan yang merata. Guru juga melakukan tindakan perbaikan sebagaimana yang telah direncanakan pada tahap perencanaan meskipun belum maksimal. Materi yang diajarkan masih dalam pokok bahasan membaca pemahaman, dimana siswa diharuskan untuk menyelesaikan soal yang berkaitan dengan menentukan pokok pikiran serta menentukan latar dalam bacaan. Selama proses pembelajaran berlangsung, teman sejawat mengobservasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa.
c. Observasi
Secara umum pada pelaksanaan tindakan siklus II ini telah ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini terlihat pada hasil observasi guru dan siswa.
Hasil observasi terhadap guru menunjukan bahwa :
1. Guru selalu menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.
2. Guru sudah bersikap tegas dengan menegur /memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru.
3. Guru memberikan bantuan/bimbingan kepada kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dalam LKS dan memberikan penghargaan kepada kelompok /siswa yang menjawab dengan benar.
4. Guru sudah dapat melaksanakan hampir semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran pada siklus II.
Hasil observasi terhadap siswa menunjukan bahwa :
1. Siswa memperhatikan dengan baik penjelasan guru walaupun belum semaksimal yang diharapkan
2. Sebagian siswa sudah berani menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan.
3. Sebagian besar siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 9 hal 75.
d. Evaluasi
Setelah 2 kali pertemuan yang membahas materi mengenai membaca pemahaman, kembali diadakan evaluasi untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar bahasa indonesia siswa.
Jumlah 23/ 100
Rata-rata 62,6
Hasil tes siklus II menunjukkan peningkatan prestasi belajar bahasa indonesia siswa dibandingkan dengan siklus I yaitu, satu orang siswa mendapat nilai 40 (4,4%), empat orang siswa mendapat nilai 50 (17,3%), enam orang siswa mendapat nilai 60 (26,1%), dan duabelas orang siswa mendapat nilai 70 (52,2%). Dengan nilai rata-ratanya adalah 62,6. Dengan persen ketidak ketuntasan 47,8% dan persen ketuntasannya 52,2%.
Hal ini menandakan ada peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I. Dari 26,1% siswa yang telah memperoleh nilai 70 pada siklus I meningkat menjadi 52,2% siswa telah memperoleh nilai 70 pada siklus II. Dari hasil tes siklus II, walaupun menunjukkan peningkatan tetapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus III. Hasil evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 17 hal 83.
e. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II, hal yang masih perlu diperhatikan adalah bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan latihan perlu ditingkatkan. adapun Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ditemukan terjadi pada tindakan siklus II akan diperbaiki pada pelaksanaan tindakan siklus III.
c. Tindakan Siklus III
a. Perencanaan
Tindakan Perencanaan siklus ketiga dilaksanakan satu kali pertemuan yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Perencanaan siklus III dengan kompentensi dasar “menyimpulkan isi cerita anak dalam beberapa kalimat” dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Dengan tujuan pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) siswa dapat menentukan pokok pikiran, (2) siswa dapat menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat, (3) siswa mampu menanggapi isi cerita (tokoh, watak, latar). Siklus ketiga ini yang diamati adalah aktifitas guru, siswa dan hasil belajar siswa, aktifitas guru dan siswa yang dicapai 8 indikator yang diharapkan. Dalam melaksanakan pembelajaran ini peneliti sebagai guru dan bertindak sebagai pengamat adalah teman sejawat.
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada pelaksanaan tindakan siklus II belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus III. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus II akan diperbaiki pada siklus III.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki tindakan siklus II adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal LKS yang telah diberikan. Selain itu, pada tahap perencanaan ini peneliti tetap membuat skenario pembelajaran, lembar observasi terhadap guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus III.
b. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT kembali dilakukan dengan mengikuti skenario pembelajaran yang telah dibuat untuk pelaksanaan tindakan siklus III.
Guru : sekarang kalian akan bapak bagi kedalam 5 kelompok sesuai dengan kelompoknya minggu lalu.
Siswa : (siswa mencari teman kelompoknya).
Guru : guru menjelaskan materi dan menyuruh siswa mendiskusikan hal-hal yang telah dijelaskan guru bersama teman kelompoknya.
Siswa : mendiskusikan teks cerita
Guru : mengamati setiap kelompok dan membantu kelompok yang mengalami kesulitan. Kemudian guru menyuruh siswa untuk membacakan hasil diskusinya sesuai langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT
Siswa : secara bergantian setiap perwakilan kelompok yang telah ditunjuk membacakan hasil dari diskusinya.
Guru : Bagaimana jawaban temanmu tadi, siapa yang bisa memberikan tanggapan (mengarahkan siswa untuk mencermati dan memberikan tanggapan).
Siswa : Saya Pak (hampir semua siswa mengajukan tangan)
Guru : Coba kamu messy berikan tanggapan.
Siswa : (memberikan tanggapan)
Guru : Bagus, berarti kalian sudah mengerti pelajaran kita hari ini.
Guru : (memberikan penguatan agar siswa yang lain mau dan berani untuk memberikan jawaban tanpa rasa takut)
Guru : sekarang Kelompok dua, tiga sampai kelompok lima tampil untuk membacakan hasil diskusinya.
Siswa : (kelompok kedua membacakan hasil diskusinya). Kegiatan ini dilakukan bergantian antar kelompok.
Guru : membagikan soal tes berupa LKS yang dibagikan ke masing-masing siswa
Siswa : satu persatu siswa yang ditunjuk naik mengerjakan soal di depan kelas
Kegiatan yang dilakukan setiap pertemuan pada siklus III adalah diawali dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada akhir proses belajar mengajar dan memberikan motivasi kepada siswa agar bersemangat dalam belajar. Tak lupa juga menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT, agar siswa lebih mantap dalam mengikuti pelajaran. Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 4-5 oramg setiap kelompok. Setelah kelompok terbentuk guru kemudian membagikan lembar bacaan yang akan didiskusikan dalam kelompoknya. Setelah selesai membimbing setiap kelompok, siswa kemudian ditunjuk untuk membacakan hasil kerja kelompoknya, ini disesuaikan dengan nomor yang dipilih secara acak dari masing-masing kelompok. Selama proses pembelajaran berlangsung guru tetap memantau dan memberikan bimbingan kepada setiap kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan. Selama proses belajar mengajar berlangsung peneliti mengobservasi jalannya pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa
c. Observasi
Teman sejawat kembali melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus III dan hasil observasi terhadap guru menunjukkan bahwa guru telah mampu melaksanakan skenario pembelajaran dengan baik. Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal berikut:
1. Semua siswa sudah memperhatikan penjelasan guru
2. Siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
3. Siswa sudah mampu mengemukakan pendapat. .
Secara umum pelaksanaan tindakan sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran telah dilaksanakan dengan baik oleh guru sebagai peneliti. Hanya masih ada sedikit kelemahan-kelemahan pada pihak siswa yaitu ada beberapa siswa yang belum mampu mengemukakan pendapat.
d. Evaluasi
Setelah 3 kali pertemuan, maka kembali diadakan tes tindakan siklus III untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar bahasa indonesia siswa.
Tabel 3. Data setelah diolah hasil belajar membaca pemahaman Jumlah 23 /100
Rata-rata 77,4
Dari hasil tes yang diadakan pada siklus III ini terjadi peningkatan yang signifikan terhadap perolehan nilai siswa, dimana satu orang siswa mendapat nilai 60 (4,4%), tujuh orang siswa mendapat nilai 70 (30,4%), duabelas orang siswa mendapat nilai 80 (52,2%), dan tiga orang siswa mendapat nilai 90 (13%). Hal ini menandakan ada peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa dari siklus II. Dengan nilai rata-ratanya 77,4. Dengan persen ketidak ketuntasan 95,7% dan persen ketuntasan 4,3%. Adapun Hasil evaluasi tindakan siklus III dapat dilihat pada lampiran 18 hal 84.
Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu dari 52,2% siswa telah memperoleh nilai 70 pada siklus II meningkat menjadi 95,7% siswa telah memperoleh nilai 70 ke atas pada siklus III.
Dari hasil tes siklus III menunjukkan adanya peningkatan dan telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan dihentikan hanya sampai pada siklus III. Hasil evaluasinya dapat dilihat pada lampiran 19 hal 85.
e. Refleksi
Kegiatan refleksi yang dilakukan pada tindakan siklus III menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan baik bagi guru mata pelajaran maupun bagi peneliti. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sudah mendapatkan hasil yang lebih baik, walaupun masih ada beberapa siswa yang belum dapat menyampaikan pendapat tetapi siswa tersebut aktif melibatkan diri dalam melaksanakan tugas kelompok.
Jika dilihat dari hasil tes pada evaluasi pelaksanaan tindakan siklus III, yaitu telah mencapai 95,7% siswa yag telah memperoleh nilai 70 ke atas atau dengan kata lain telah mencapai indikator keberhasilan, maka penelitian ini telah berhasil dilaksanakan sesuai rencana pelaksanaan penelitian dengan tiga siklus tindakan.
B. Pembahasan
Penelitian ini berakhir setelah pelaksanaan siklus III karena telah mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pada siklus I, perolehan nilai siswa berdasarkan ketuntasan belajar hanya 21,7% siswa yang telah memperoleh nilai 70. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, guru dan siswa telah melakukan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, namun masih terdapat kekurangan-kekurangan dimana kekurangan itu ada yang berasal dari guru dan ada juga yang berasal dari siswa. Diantaranya ada sebagian siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru pada saat menyampaikan materi, dan kekurangan yang berasal dari guru adalah belum terlaksananya semua komponen dalam skenario pembelajaran. Hal itu dikarenakan guru belum dapat mengatur waktu sebaik mungkin, guru terlalu banyak memberikan waktu pada siswa untuk bekerja menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Melihat kekurangan yang masih ada serta prestasi belajar bahasa indonesia siswa terhadap pokok bahasan membaca pemahaman pada tindakan siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka penelitian dilanjutkan pada tindakan siklus II.
Hal-hal yang harus diperbaiki pada tindakan siklus II adalah guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya. Guru juga harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana.
Pada tindakan siklus II, model pembelajaran kooperatif tipe NHT kembali dilaksanakan. Berdasarkan hasil observasi pada tindakan siklus II, kegiatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran telah meningkat. Dimana kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I sudah dapat diperbaiki sedikit demi sedikit. Siswa sudah lebih memperhatikan penjelasan guru walaupun hanya beberapa siswa mampu dan mau mengajukan pertanyaan jika mendapat masalah dalam menyelesaikan soal-soal LKS yang diberikan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus II, siswa yang memperoleh nilai 70 sebanyak duabelas orang atau 52,2%. Ini berarti mengalami peningkatan dibanding hasil evaluasi pada siklus I, dimana hanya lima orang yang mencapai nilai 70 atau 21,7%. Melihat hasil tes tindakan siklus II ini belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan maka penelitian dilanjutkan kembali pada siklus berikutnya. Hal-hal yang harus diperbaiki pada siklus III adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan.
Setelah siklus III, nilai siswa menunjukkan lagi peningkatan menjadi 95,7% siswa telah memperoleh nilai 70 ke atas dan secara rata-rata juga meningkat menjadi 77,4. Hal ini berarti telah mencapai indikator yang telah ditetapkan. Sedangkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran bisa dikatakan sempurna, yakni 100% komponen dalam skenario telah dilaksanakan dengan baik sesuai yang diharapkan. Karena kedua indikator telah tercapai, ini berarti hipotesis tindakan telah tercapai yaitu Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pembelajaran membaca pemahaman maka dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa kelas V SD Inpres Lompengeng.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pembelajaran membaca pemahaman maka dapat meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa kelas V SD Inpres Lompengeng. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes siklus I, siswa yang memperoleh nilai minimal 70 sebanyak 21,7% meningkat pada siklus II menjadi 52,2%; siswa yang memperoleh nilai minimal 70 pada siklus III meningkat pula menjadi 95,7%.
B. Saran.
Berdasarkan kesimpulan, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Bagi guru diharapkan dapat mempelajari dan memahami agar mampu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam proses belajar mengajar, juga diharapkan selalu mencoba atau meneliti setiap model pembelajaran, sehingga model pembelajaran tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan.
2. Bagi siswa diharapkan agar dalam belajar selalu menanyakan masalah-masalah yang tidak dimengerti dalam materi yang diajarkan dan selalu melakukan diskusi dengan temannya dalam menyelasaikan setiap masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Saleh. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Efektif Di Sekolah Dasar.Jakarta : Depdiknas & Dirjen Dikti.
Anni, Chattarina Tri. 2005. Psikologi belajar. Semarang. UPT UNNES
Djaali. 1998. Pengaruh kebiasaan belajar dan intensitas mengikuti perkuliahan terhadap indeks prestasi mahasiswa jurusan pendidikan matematika FMIPA IKIP ujung pandang. Laporan penelitian IKIP Ujung pandang
Depdikbud. 1995/1996. Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas III-Kelas VI di Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Depdiknas. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta : Depdiknas.
Ibrahim. M. dkk. 2000. Pembelajaran kooperatif. Surabaya. Universitas neg. Surabaya
Khalik, Abdul. 2007. Pendidikan bahasa indonesia kelas tinggi. Makassar: universitas negeri makassar
Mc, taggart. 1998. the actoin research planner. victoria. deakin university press
Miles dan Huberman. Tanpa Tahun. Analisis Data Kualitaif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi
Moleong. 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya
Muhammad noor. 2005. Pembelajaran kooperatif. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Dasar Dan Menengah Lembaga Penjamin Mutu Jawa Timur
Rahim, Farida. 2007. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta : Bumi Aksara
Rhoders & Marling. 1988. Readers and Writers with a Difference.Denfer : Univercity of Collorado.
Syafi’ie. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia 1. Jakarta : Depdikbud.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan Nasional. Jakarta: PT Kloang Klede Putra Timur dan Departemen Dalam Negeri

0 komentar:
Post a Comment