Hari pertama menginjakkan kaki di kampus, memang sangat mengerikan dan berat. Itulah yang saya alami di mana harus berhadapan dengan senior-senior yang super garang dan menakutkan.
Hari itu sabtu siang. Hape berdering kencang di atas kepalaku yang ketika itu aku tertidur karena kecape`an habis menempuh perjalanan jauh dari barru. Setelah aku baca ternyata dari seorang teman yang memberitahukan tentang perlengkapan yang akan di pakai besok.
Sore harinya, bersama dengan teman yang berinisial IM pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota makassar untuk mencari baju warna biru namun tak dapat juga, katanya kehabisan. Saat itu aku langsung keluar untuk pulang. Namun di tengah jalan, keganasan kota daeng menyambutku bak tamu istimewa. Akupun ditodong, uang dan hape melayang seketika itu. Begitu pun dengan teman aku. Padahal di hape itulah banyak nomor penting termasuk nomor seorang yang dapat membantuku saat ospek nanti.
Malam itu aku tak lantas pulang, aku keliling mencari kantor polisi terdekat. Saat itu aku naik becak, bahkan tukang becak pun marah karena tidak kami bayar. Waktu itu aku sebenarnya takut kalau-kalau aku tersesat soalnya ini pertama kalinya aku ketempat itu. Sampai di kantor polisi, kami di cuekin (saat itulah aku benci yang namanya polisi) katanya singkat... silahkan ke kapolsekta wajo. Aku bingung tempatnya dimana? Kataku ke IM.. kami pun harus naik becak kembali. ”Daeng bisa antar ke kapolsekta wajo”? Kataku tanpa pikir.. setelah sampai di sana kami sempat diintrogasi dan memberikan sedikit data. Saat itu aku sangat haus dan tak sadar air minum pak polisi yang berada dalam gelas habis tak tersisa di lahap oleh tenggorokanku.
Setelah itu aku pun pulang dengan modal 5000 perak. Saat di mobil aku hanya bisa sedih, sedih dan sedih aku takut jika orang tuaku kelak mengetahuinya. Begitu pun dengan IM.
Salah satu jalan keluarnya adalah shalat. Betapa nikmat shalatku saat itu. Tetesan air mata tak menyadarkan aku pada kekhusukanku. Setelah selesai aku lantas tidur yang hanya beralaskan lantai yang dingin. Tapi entah kenapa perasaan itu kembali menghantuiku sampai-sampai malam itu tak kunjung menghibnotisku. Bantal dari sarung pun basah karena air mata.
Besoknya aku berangkat ke kampus dengan raut muka yang masih sedih. Saat itu baju kemeja biru berukuran XL menempel di badanku. Agak kebesaran sih, tapi itu satu-satunya punya temanku. Sampai di kampus aku jadi bahan tertawaan senior. Mungkin karena baju yang saya pakai. Tapi aku diam saja dan membiarkannya menertawaiku sepuasnya. Katanya aku banranga (entah apa artinya) saat itu aku adalah yang pertama tiba di kampus. Tapi senior bilang aku terlambat. Ya.. diterima aja, soalnya takut digebukin kalo` komplain dikit...
Suara keras terdengar di telingaku push up akupun pasrah dengan bentakan itu. itulah sambutan spesial yang aku terima dan tentu saja sangat menyakitkan hatiku. Tidak lama berselang teman-teman aku pun berdatangan malahan mereka lebih parah dari aku. Salah seorang senior mengatakan kepadaku, katanya” di kampus itu de` berlaku yang namanya hierarkhi antara maba dan senior” ... habis itu aku pun harus merelakan mahkota yang selama ini aku jaga. Ternyata begitu mudahnya senior mencukurnya, sampai aku tidak sadar kepalaku telah botak.
Kemudian rumput dan sampah menjadi temanku dikala aku merayap di atas aspal sejauh 50 meter kemudian kembali dengan berguling di rumput yang saat itu masih basah karena embun. Aku sempat muntah karena pusing. Tidak satupun yang menolongku saat itu yang hampir-hampir pingsang.
Setelah sampai di pos II, ”asaalamu`alaikum-tabe`senior” kataku tak ikhlas. Salah satu senior wanita menceramaiku yang tak masuk akal. Tapi untunglah di sana aku tak sendiri. Sesosok wanita cantik juga menemaniku yang nasibnya sama seperti saya. Senior menyuruhku merayunya tapi dalam selokan yang berair “tidak ikhlas rasanya aku diperlakukan seperti ini? Harga diriku sudah diinjak, seakan-akan kami adalah binatang yang bodoh” kataku dalam hati.. untunglah cewek tadi kompak denganku padahal aku tidak kenal dengan dia.
Setelah selesai di pos II aku harus jalan jongkok ke pos III ditengah keramaian orang sambil bunyi layaknya bebek dari lumpur karena bajuku saat itu bau karena air comberan. Sampai di pos III aku terkejut kami diberi air minum dan sedikit makanan ringan, habis itu kami diskusi masalah aliran ahmadiyah yang saat itu lagi panas-panasnya diperbincangkan banyak orang.
Dialah kak cudding. Dia mengajarkan aku kehidupan kampus yang sebenarnya. Dia bersahabat sekali dengan kami. Saat itu kekerasan yang aku lewati tadi hilang seketika. Setelah itu kami sekitar 40 orang berkumpul dalam satu ruangan, kemudian istirahat...
Habis istirahat aku melanjutkan ke pos IV untuk mendapatkan pakaian ospek nantinya. Di sana aku di kerjain habis-habisan, akupun harus menyanyi ala` KDI, dansa, joged, jalan model, dengan orang yang tidak aku kenal. Yang kesemuanya itu tidak lumrah aku lakukan. Jam 5 sore aku pun pulang dengan perasaan yang bergejolak karena aku merasakan penderitaan yang tak terbayangkan oleh banyak orang.
Tepat hari lahirku 1 september, Ospek universitas pun di mulai. saat itu ribuan mahasiswa baru termasuk aku berkumpul di auditorium amanagappa UNM. Di sana kami satu rasa, seragam putih hitam tanpa sehelai rambut pun yang menempel di kepala kami. Tapi saya bersyukur karena daeng becak pun ikut senang jika kami seperti itu. Katanya “ maba biasanya malu untuk jalan kaki, jadi terpaksa harus naik becak” ucapnya spontan.
Orasi politik pun di mulai oleh rektor yang disambut beragam oleh maba. Termasuk aku karena suaranya tak terlalu aku dengar. Terlebih lagi saat itu maba dari fakultas ilmu keolah ragaan (FIK) melempari kami dari atas berupa kertas dan botol air mineral. Serta yel-yel yang begitu jelas terdengar. Mereka mencela rektor serta ingin membuat kekacauan seandainya hari itu anak tekhnik jadi ikut. Setelah istrahat aku berencana cari makan. Namun aku bertemu dengan sosok yang tak asing lagi bagiku yaitu ayahanda. Dia menasehatiku dan memberi dukungan moril kepadaku. Ternyata dia sudah mengetahui apa yang aku alami. Aku sempat meneteskan air mata di hadapannya.
Jam 5 sore acara penyambutan maba selesai. Namun aku tak lantas pulang saat itu. Kami masih harus berkumpul untuk
persiapan ospek fakultas besoknya. Berupa persiapan perlengkapan yang harus di persiapkan besoknya.
Besoknya jam 4 subuh aku sudah harus berangkat ke kampus. Semuanya serba terpaksa dan buru-buru. Habis mandi aku harus mencat muka dengan arang. Karena saat itu tak ada jadi aku ganti dengan spidol, kaos kaki warna hijau dan kuning, tas dari sarung, ember, sapu, makalah tali rapiah yang jadi pengikat sepatu, lonceng anjing yang di pasang di kaki serta compeng bayi yang harus di kalungkan di leher, menambah riuh perjalananku saat itu. Di tambah lagi aksesoris lain berupa pangkat dari susu saset, kopi mix, serta ekstra joss. Saat itu dalam pikiranku aku tak ubahnya orang gila yang sering aku olok-olok sewaktu masih sekolah.
Di jalan kami sudah di sambut dengan teriakan yang tidak mengenakkan, ”jalan jongkok, push up serta merayap di aspal” itulah yang aku jadikan sarapan tiap subuh. Bahkan tendangan dan pukulan keras harus aku dapatkan setiap hari. Saat itu aku sengaja lupa bawa satu perlengkapan yaitu buku bacaan. Pukulan dan tendangan ke dadaku ibarat peluru tajam yang menembusnya. Hanya pasrah karena aku tak dapat berbuat apa-apa, sampai aku jatuh tapi tak sempat pinsang.
Tiap hari tak kurang 30-40 ribu untuk membeli perlengkapan ospek yang tiap hari harus di ganti. Satu perlengkapan yang sangat menyusahkanku saat itu ketika harus membawa tutup botol teh sosro sebanyak 30 buah. Bayangkan berapah banyak yang terkumpul jika lebih 1500 maba? Yang jelasnya langkah..
Sore harinya pinggiran jalan pettarani sampai ujung menjadi sahabatku saat itu, tanpa ada rasa malu kami mulai memungut satu persatu tutup botol. Bahkan harus berebutan dengan tiga orang yang saat itu bersamaku. Setelah balik kami masih harus diperhadapkan oleh makalah yang harus dikumpul besok.
Hari ke-2, ke-3 juga seperti itu. Tidak beda jauh.
Hari terakhir ospek adalah hari yang tak dapat aku lupakan. Perpisahan yang di akhiri lagu kemesraan seakan-akan rasa benci aku pada senior pudar semua yang muncul adalah persahabatan yang tak ternilai harganya. Saat itulah aku merasakan kemerdekaan yang sebenarnya. Kataku dalam hati selamat datang unm.........
Hari itu sabtu siang. Hape berdering kencang di atas kepalaku yang ketika itu aku tertidur karena kecape`an habis menempuh perjalanan jauh dari barru. Setelah aku baca ternyata dari seorang teman yang memberitahukan tentang perlengkapan yang akan di pakai besok.
Sore harinya, bersama dengan teman yang berinisial IM pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota makassar untuk mencari baju warna biru namun tak dapat juga, katanya kehabisan. Saat itu aku langsung keluar untuk pulang. Namun di tengah jalan, keganasan kota daeng menyambutku bak tamu istimewa. Akupun ditodong, uang dan hape melayang seketika itu. Begitu pun dengan teman aku. Padahal di hape itulah banyak nomor penting termasuk nomor seorang yang dapat membantuku saat ospek nanti.
Malam itu aku tak lantas pulang, aku keliling mencari kantor polisi terdekat. Saat itu aku naik becak, bahkan tukang becak pun marah karena tidak kami bayar. Waktu itu aku sebenarnya takut kalau-kalau aku tersesat soalnya ini pertama kalinya aku ketempat itu. Sampai di kantor polisi, kami di cuekin (saat itulah aku benci yang namanya polisi) katanya singkat... silahkan ke kapolsekta wajo. Aku bingung tempatnya dimana? Kataku ke IM.. kami pun harus naik becak kembali. ”Daeng bisa antar ke kapolsekta wajo”? Kataku tanpa pikir.. setelah sampai di sana kami sempat diintrogasi dan memberikan sedikit data. Saat itu aku sangat haus dan tak sadar air minum pak polisi yang berada dalam gelas habis tak tersisa di lahap oleh tenggorokanku.
Setelah itu aku pun pulang dengan modal 5000 perak. Saat di mobil aku hanya bisa sedih, sedih dan sedih aku takut jika orang tuaku kelak mengetahuinya. Begitu pun dengan IM.
Salah satu jalan keluarnya adalah shalat. Betapa nikmat shalatku saat itu. Tetesan air mata tak menyadarkan aku pada kekhusukanku. Setelah selesai aku lantas tidur yang hanya beralaskan lantai yang dingin. Tapi entah kenapa perasaan itu kembali menghantuiku sampai-sampai malam itu tak kunjung menghibnotisku. Bantal dari sarung pun basah karena air mata.
Besoknya aku berangkat ke kampus dengan raut muka yang masih sedih. Saat itu baju kemeja biru berukuran XL menempel di badanku. Agak kebesaran sih, tapi itu satu-satunya punya temanku. Sampai di kampus aku jadi bahan tertawaan senior. Mungkin karena baju yang saya pakai. Tapi aku diam saja dan membiarkannya menertawaiku sepuasnya. Katanya aku banranga (entah apa artinya) saat itu aku adalah yang pertama tiba di kampus. Tapi senior bilang aku terlambat. Ya.. diterima aja, soalnya takut digebukin kalo` komplain dikit...
Suara keras terdengar di telingaku push up akupun pasrah dengan bentakan itu. itulah sambutan spesial yang aku terima dan tentu saja sangat menyakitkan hatiku. Tidak lama berselang teman-teman aku pun berdatangan malahan mereka lebih parah dari aku. Salah seorang senior mengatakan kepadaku, katanya” di kampus itu de` berlaku yang namanya hierarkhi antara maba dan senior” ... habis itu aku pun harus merelakan mahkota yang selama ini aku jaga. Ternyata begitu mudahnya senior mencukurnya, sampai aku tidak sadar kepalaku telah botak.
Kemudian rumput dan sampah menjadi temanku dikala aku merayap di atas aspal sejauh 50 meter kemudian kembali dengan berguling di rumput yang saat itu masih basah karena embun. Aku sempat muntah karena pusing. Tidak satupun yang menolongku saat itu yang hampir-hampir pingsang.
Setelah sampai di pos II, ”asaalamu`alaikum-tabe`senior” kataku tak ikhlas. Salah satu senior wanita menceramaiku yang tak masuk akal. Tapi untunglah di sana aku tak sendiri. Sesosok wanita cantik juga menemaniku yang nasibnya sama seperti saya. Senior menyuruhku merayunya tapi dalam selokan yang berair “tidak ikhlas rasanya aku diperlakukan seperti ini? Harga diriku sudah diinjak, seakan-akan kami adalah binatang yang bodoh” kataku dalam hati.. untunglah cewek tadi kompak denganku padahal aku tidak kenal dengan dia.
Setelah selesai di pos II aku harus jalan jongkok ke pos III ditengah keramaian orang sambil bunyi layaknya bebek dari lumpur karena bajuku saat itu bau karena air comberan. Sampai di pos III aku terkejut kami diberi air minum dan sedikit makanan ringan, habis itu kami diskusi masalah aliran ahmadiyah yang saat itu lagi panas-panasnya diperbincangkan banyak orang.
Dialah kak cudding. Dia mengajarkan aku kehidupan kampus yang sebenarnya. Dia bersahabat sekali dengan kami. Saat itu kekerasan yang aku lewati tadi hilang seketika. Setelah itu kami sekitar 40 orang berkumpul dalam satu ruangan, kemudian istirahat...
Habis istirahat aku melanjutkan ke pos IV untuk mendapatkan pakaian ospek nantinya. Di sana aku di kerjain habis-habisan, akupun harus menyanyi ala` KDI, dansa, joged, jalan model, dengan orang yang tidak aku kenal. Yang kesemuanya itu tidak lumrah aku lakukan. Jam 5 sore aku pun pulang dengan perasaan yang bergejolak karena aku merasakan penderitaan yang tak terbayangkan oleh banyak orang.
Tepat hari lahirku 1 september, Ospek universitas pun di mulai. saat itu ribuan mahasiswa baru termasuk aku berkumpul di auditorium amanagappa UNM. Di sana kami satu rasa, seragam putih hitam tanpa sehelai rambut pun yang menempel di kepala kami. Tapi saya bersyukur karena daeng becak pun ikut senang jika kami seperti itu. Katanya “ maba biasanya malu untuk jalan kaki, jadi terpaksa harus naik becak” ucapnya spontan.
Orasi politik pun di mulai oleh rektor yang disambut beragam oleh maba. Termasuk aku karena suaranya tak terlalu aku dengar. Terlebih lagi saat itu maba dari fakultas ilmu keolah ragaan (FIK) melempari kami dari atas berupa kertas dan botol air mineral. Serta yel-yel yang begitu jelas terdengar. Mereka mencela rektor serta ingin membuat kekacauan seandainya hari itu anak tekhnik jadi ikut. Setelah istrahat aku berencana cari makan. Namun aku bertemu dengan sosok yang tak asing lagi bagiku yaitu ayahanda. Dia menasehatiku dan memberi dukungan moril kepadaku. Ternyata dia sudah mengetahui apa yang aku alami. Aku sempat meneteskan air mata di hadapannya.
Jam 5 sore acara penyambutan maba selesai. Namun aku tak lantas pulang saat itu. Kami masih harus berkumpul untuk
persiapan ospek fakultas besoknya. Berupa persiapan perlengkapan yang harus di persiapkan besoknya.
Besoknya jam 4 subuh aku sudah harus berangkat ke kampus. Semuanya serba terpaksa dan buru-buru. Habis mandi aku harus mencat muka dengan arang. Karena saat itu tak ada jadi aku ganti dengan spidol, kaos kaki warna hijau dan kuning, tas dari sarung, ember, sapu, makalah tali rapiah yang jadi pengikat sepatu, lonceng anjing yang di pasang di kaki serta compeng bayi yang harus di kalungkan di leher, menambah riuh perjalananku saat itu. Di tambah lagi aksesoris lain berupa pangkat dari susu saset, kopi mix, serta ekstra joss. Saat itu dalam pikiranku aku tak ubahnya orang gila yang sering aku olok-olok sewaktu masih sekolah.
Di jalan kami sudah di sambut dengan teriakan yang tidak mengenakkan, ”jalan jongkok, push up serta merayap di aspal” itulah yang aku jadikan sarapan tiap subuh. Bahkan tendangan dan pukulan keras harus aku dapatkan setiap hari. Saat itu aku sengaja lupa bawa satu perlengkapan yaitu buku bacaan. Pukulan dan tendangan ke dadaku ibarat peluru tajam yang menembusnya. Hanya pasrah karena aku tak dapat berbuat apa-apa, sampai aku jatuh tapi tak sempat pinsang.
Tiap hari tak kurang 30-40 ribu untuk membeli perlengkapan ospek yang tiap hari harus di ganti. Satu perlengkapan yang sangat menyusahkanku saat itu ketika harus membawa tutup botol teh sosro sebanyak 30 buah. Bayangkan berapah banyak yang terkumpul jika lebih 1500 maba? Yang jelasnya langkah..
Sore harinya pinggiran jalan pettarani sampai ujung menjadi sahabatku saat itu, tanpa ada rasa malu kami mulai memungut satu persatu tutup botol. Bahkan harus berebutan dengan tiga orang yang saat itu bersamaku. Setelah balik kami masih harus diperhadapkan oleh makalah yang harus dikumpul besok.
Hari ke-2, ke-3 juga seperti itu. Tidak beda jauh.
Hari terakhir ospek adalah hari yang tak dapat aku lupakan. Perpisahan yang di akhiri lagu kemesraan seakan-akan rasa benci aku pada senior pudar semua yang muncul adalah persahabatan yang tak ternilai harganya. Saat itulah aku merasakan kemerdekaan yang sebenarnya. Kataku dalam hati selamat datang unm.........

1 komentar:
Mantap. Ceritanya mengharukan kak.tips nya akan sangat berguna nanti. Arigatou gozaimasu
Post a Comment